Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Sunday, July 10, 2005

CINTA, DARA, DAN ANJING

Aku tidak ingat lagi berapa kali cinta memanggilku. (Habis susah ngitungnya... bendanya aja kaya apa, aku belum pernah lihat. Bisanya cuma dirasakan). Setiap kali cinta menyapa - tak peduli dari siapa - rasanya... campur-campur. Bahagia tapi sedih juga. Bahagianya, sapaan cinta itu hangat dan menghidupkan, membangkitkan gairah hidup. Sedihnya, jika dia berlalu... rasanya sepi, dingin, laksana memandang burung gagak yang bertengger di ranting kering di tengah padang salju.

Pernah sekali waktu aku suka pada seorang gadis teman sekolah. Inisialnya VTW - sering dipelesetin jadi VUTW, varietas unggul tahan wereng! Cuma aku tidak tahu apakah dia menaruh perasaan padaku. Yang jelas dia sangat baik padaku dan membuat segala2nya terasa hidup. Terlebih ketika dia bermaksud datang ke rumah. DUER! Tau enggak... waktu itu aku jadi kelabakan sendiri. Soalnya dia itu cewek yg jadi inceran banyak cowok. Dia bilang, sore akan datang. Makanya pulang sekolah aku buru2 ke swalayan mencari minuman dan kue2. Sorenya dia betul datang. Tapi tidak sendiri. Dia bersama teman, sama2 cewek juga sih! Si Maming. Sesudah lulus, kami terpisah. Aku melanjutkan kuliah di Yogya, sementara dia kuliah di Salatiga. (Hehehe... kalau inget kekonyolan itu jadi geli sendiri). Terakhir kali aku bertemu Maming, dia sudah menikah dan punya anak. Begitu juga dengan VTW (Hahaha! Hiks...).


Panggilan cinta ternyata tak hanya dari manusia. Hewan juga bisa (Ah, masak?).
Aku tuh paling suka piara anjing. (Guk! Guk!) Aku suka hampir semua jenis anjing (kecuali yang rabies dong!). Kalau melihat ke dalam bola mata mereka, rasanya gimanaaa gitu! Polos, tidak berpura2. Anjing tidak biasa berpura2 (Apalagi kalau dia pas ngegigit orang!).
Eh, bicara soal gigit-menggigit, aku pernah digigit anjing. Waktu itu aku masih kelas 2 SD (hehehe... masih hijau). Keluargaku tinggal di perumnas yang sederhana. Ada dua kompleks perumnas, namanya Ottawa dan Makmur.


Nah, sekali waktu aku main2 ke Makmur. Pas di ujung gang yang dekat taman kanak2, tiba2 muncul 2 ekor anjing. Nyelonong gitu aja tanpa ijin! Mending kalau mereka terus berlalu. Ini enggak... entah kenapa mereka kompak banget berbalik dan mengejar aku. Mentang2 gigi mereka putih, lebih putih dari gigi... tetanggaku, mereka pamer gigi dengan bangga. Kalau saja yang pamer gigi itu Tamara Bleszynski (bener enggak nih tulisannya?), aku juga bakal lari... mendekat. Lha ini... anjing! Maka kukeluarkan jurus andalan: langkah 1000. Celakanya anjing2 itu punya jurus lebih hebat: langkah 1001. Akibatnya...

GYUUUT!

Gigi anjing yang putih itu menyergap bagian rawan. Selangkanganku kena! Coba saja mereka menggeser 5 cm lebih ke dalam... nggak taulah aku! Mungkin akan muncul berita anjing mengebiri orang! Pinter milih sasaran tuh anjing sialan!
Guna menyelamatkan aset berharga, aku terpaksa memanjat pohon. Jadi monyet sebentar nggak apa... daripada kehilangan keperjakaan oleh anjing. Nggak sempat kutengok apakah mereka anjing jantan atau betina. Pokoknya ngabuuur! Dalam hati aku mengumpat, "ANJING!"

Syukurlah pemilik anjing segera keluar dan memanggil piaraan mereka. Yaaa... karena itu turunlah aku! Pulang. Nggak sempat terpikir buat nuntut ganti rugi. Jaman gitu belum musim orang nuntut ganti rugi kayak sekarang. Perkara sepele aja ganti ruginya berjut2. Apalagi aku masih anak SD yang belum terprovokasi oleh... provokator tentunya.

Meski aku digigit anjing, kecintaanku pada Canis familiaris itu enggak luntur. Kalau aku kena gigit, ya itu pas sial aja... atau anjing itu lagi beranak... atau dia lagi mengasah gigi... atau dia lagi frustrasi karena cintanya ditolak (hehehe...). Kalau kalian enggak mau digigit anjing, resepnya gampang: jangan dekat2 anjing.


Aku pernah punya anjing yang pinter, namanya Dicky (maaf buat yang punya nama sama... cuma kebetulan). Dia tau aba2 yang kuberikan. Sebenarnya sih... anjing itu dulunya punya teman. Tapi karena aku punya andil membesarkannya, maka anjing itu jadi punyaku juga. Hanya beberapa orang yang bisa memerintah anjing itu. Soalnya aba2 yang kami berikan dalam bahasa Tiociu. Jadi orang yang nyuruh anjing itu dengan bahasa Inggris paling mahir pun nggak bakalan digape. Ampe jontor mulut, ya nggak ngaruh...

Pas Dicky mati, aku nangis bombay semalam2an. Aku merasa kehilangan sahabat dekat. (Benar juga kata orang, bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia). Anjing itu setia banget. Kalau dia kumarahin, enggak bales marah apalagi ngegigit. Kala aku sedih sendiri, dia datang menemani. Kala aku jalan2 pagi, dia ikut (Biasanya kalau dia lihat aku sudah menyiapkan rantai, langsung melompat2 senang. Dia tahu, aku bakal mengajaknya jalan dan lari pagi). Ada rasa bangga juga berlari dengannya, soalnya ukuran tubuhnya termasuk besar. Kalau aku pergi kuliah, dia setia menunggu di rumah. Dia enggak banyak kasih nasihat ke aku, tapi begitu aku memandang wajahnya... aku langsung tau jalan keluar atas problem yang kuhadapi (tuh... jangan sepele'in anjing ya! Jangan cuma bisa bikin erwe!).

Dicky kukuburkan di depan rumah. Kugali sendiri liangnya dengan susah payah. Habis tanahnya liat! Apalagi ukuran tubuh anjingnya besar... Mesti gali tanah lebih dalam dan lebih lebar kan?

Total dari aku kecil sampai sekarang, ada 14 ekor anjing yang pernah kupiara (belum begitu banyak...). Sekarang tak seekorpun. Mereka ada yang mati karena tua, tapi ada juga yang mati karena sakit (hiks... sedihnya...). Sebenarnya aku masih pengen piara anjing lagi. Tapi ibuku enggak mau. Dia nggak ingin merasakan rasa kehilangan lagi. Yah, terpaksalah aku memendam keinginan itu. Tapi suatu hari nanti aku pasti akan piara anjing lagi. Tunggu saja!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home