Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Saturday, July 16, 2005

THE UNLUCKY DAY

Pernah enggak kalian ngerasain satu hari yang betul2 bad, baD, bAD, BAD day? Satu hari penuh dibuntutin kesialan? (Pernah kali ya?)

Kejadiannya tuh waktu aku masih kuliah di Jogja. Emang Jogja paling enak buat kuliah en... ehm... titik2 (isi sendiri ya? Terserah mau loe isi apa).

Hari itu aku musti praktikum Kimia Dasar (tau sendiri kan bagaimana asyiknya praktikum kimia?). Seperti biasa, sebelum praktikum diadakan pretest untuk mengetahui penguasaan materi yang akan dipraktikumkan. Semalam2an aku pantengin buku diktat. Lumayan juga. Musti ngerti gimana reaksi X berlangsung, kenapa bisa begitu, macem2 lah! Beruntung aku enggak menemui kesusahan dengan kimia (he-he-he... sombong ni ye? Memang!). Yang kasihan tu temanku. Sampai mukanya kayak rumus kimia, masih enggak ngêh juga.

Pretest? Huuu... lewaaat!

Nah, waktu praktikum itulah kesialan mulai membayang. Salah satu senyawa yang kami gunakan adalah NaOH, natrium hidroksida gitu. Termasuk basa kuat dan uapnya enggak bagus buat kesehatan. Aku sendiri membuktikan memang NaOH enggak bagus buat kesehatan.

Tiba saatnya kelompokku melangsungkan pernikahan - eh percobaan. NaOH mesti kami masukkan ke dalam tabung reaksi. Berhubung NaOH itu bukan cairan deterjen, maka kami memerlukan pipet ukur untuk mengambilnya. Di ujung pipet ukur itu ada semacam alat untuk mengisap.

Sial! Kelompok kami menerima alat pengisap yang enggak beres alias perlu diafkir. Karena waktu terus berjalan dan aku enggak sabaran, maka nekat aja aku mengisap ujung pipet ukur dengan mulut.

SYUUUT!
Cairan bening itu merangkak di sepanjang dinding pipet. Seharusnya aku segera berhenti nyedot begitu NaOH sampai di angka 5 ml. Tapi mungkin saking semangatnya, aku kelupaan.

NYAAAS!
Rasa panas menyengat lidahku. BUSEEET! ANJROT! Litani puji2an menyembur spontan.
Pipet ukur kucampakkan dan aku bergegas lari ke kran air. Lidahku kujulur2kan di bawah aliran air (mirip si Gukguk kehausan kali ye?).

Teman2ku bukannya ikut prihatin melihat bencana yang kualami, mereka malah ngakak lebar banget. ANJROT! Sejuta topan badai! (lho.. kok umpatannya enggak serem sih?).
Asisten praktikum cuma bisa geleng2 kepala (bukan karena habis nelen XTC lho!). Mereka enggak habis pikir, bisa2nya ada praktikan gebleg kayak aku. Dah tau yang dipakai praktikum bukan ASI, eh... masih nyedot pakai mulut!

Untunglah cairan sialan itu belum sempat tertelan. Tapi lumayan juga buat manasin lidah (emangnya mau bikin menu lidah bakar?). Lidahku selamat. Enggak ada luka permanen. Selesai praktikum rasa panas sudah jauh berkurang karena aku mendapat segelas susu dari asisten praktikum (Asyiiik! Sering2 aja ngasih susunya, kan aku sedang dalam masa pertumbuhan...)

Selesai praktikum aku berniat ke Gramed. Cari buku sekalian cuci mata. Tapi begitu sampai di parkiran sepeda motor...
Haduuuuh... ban sepeda motorku kempis. Mau nyari tukang angin nanggung. Soalnya sejam lagi aku masuk kuliah. Maka terpaksa aku naik Kopata. Itu tuh... bis kotanya Jogja yang warnanya oranye. Ada juga yang enggak oranye... abu-abu, tapi namanya bukan Kopata. Aspada. Entah apa kepanjangannya (aku enggak tertarik buat mencari tau).

Kopata yang kunaiki penuhnya enggak kepalang. Terpaksa aku jadi atlet lempar lembing (bergelantungan di dalam bis kota gitu loh!)

Setibanya di Gramed, tempat yang pertama kutuju adalah toilet. Mungkin karena tadi digelontor susu, adik kecilku jadi kepengin ke belakang. Ya wudaaah... maka akupun piss of...

CUUUR...

Lega rasanya sesudah nahan kencing (ditengah impit2an penumpang bis lagi!).
Tapi... lho... retsluitingku jadi enggak mau diajak baikan! Dia menjebolkan diri dengan sukses. Yaaah... Apa aku musti keliling dengan sangkar burung ngejeblak? Kasihan tuh nanti cewek2, bisa2 pada keserang penyakit panas-dingin!

Mau ngeluarin ujung kemeja... enggak nutup juga, soalnya model kemeja yang kupakai bawahannya pendek. Ujungnya persis di bawah ikat pinggang. Maka acara beli buku terpaksa batal. Enggak enak kan jalan2 dalam keadaan begitu. Bukannya enggak pede dengan asset pribadi. Tapi kan itu ga bisa diobral sembarangan (memangnya kayak asset negara yang diobral ke mana2?) Salah2 malah nanti ditangkap polisi dan dikenai pasal penyebab gangguan ketertiban umum... huehehehe...kekekekek...

Sialan, si adek kecil ini... mau buang air kecil aja musti ke Gramed!

Dari toko buku itu aku langsung kembali ke kost. Ganti celana gitu. Terus ke kampus lagi buat kuliah (hehehe... rajin ni ye?)

Kuliahnya Biologi Umum. Dosennya Pak Situmorang. Dia tu dosen dari Biologi UGM yang ngajar entomologi.
Aku duduk paling depan (soalnya deretan belakang udah penuh!). Di sebelahku ada Gembul, Ari, dan satunya lagi... aduh gawat, aku lupa namanya.


Di tengah2 kuliah itu kami berhaha-hihi. Macam2lah yang kami bicarakan. Sebenarnya kami tau juga tingkah kami diperhatikan oleh Pak Morang. Tapi entah kenapa kami nekat aja ngobrol, ketawa-ketiwi.

"PLETOK!"
Secuil kapur tulis mendarat di jidat Gembul.
Serentak tanpa di komando kami membisu.


"Kalian! Sejak tadi ngomong sendiri! Sana KELUAR!" Suara Pak Morang menggeledek.

Di bawah pandangan teman2 seruangan kami berjalan pelan2 keluar. Enggak tau deh, apa warna muka kami saat itu. Mau merah, biru, hijau... terserah deh!

Sungguh hari sial!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home