Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Monday, July 18, 2005

THE DA VINCI CODE

Kali ni sy ngambil SP. Biar cpt slesai. Guru, udh bc kode Da Vinci blm?

Begitu bunyi sms yang kuterima pk. 20:54:11 pada Sabtu, 16 Juli 2005 yang lalu. Sms dikirimkan oleh saudaraku yang pernah sama2 mengecap masa pranovisiat dan novisiat.

The Da Vinci Code memang buku fiksi yang sangat menarik. Buku itu menarik karena isinya dianggap menggoncang iman yang telah bertahan 2000 tahun. Dan menjadi lebih menarik lagi karena pada saat diluncurkan, bersamaan dengan kejadian besar: jatuh sakit dan wafatnya Sri Paus Johanes Paulus II.

Dan Brown memang patut diacungi jempol. Kenakalan imajinasinya yang didukung dengan data-data - yang menurut dia - otentik, sanggup membuat beberapa orang kardinal di Italia melarang umat membaca buku fiksi tersebut. It's very very ridiculous! Hare gene masih ada larangan baca buku?!?!
Kalau larangan itu muncul pada zaman abad kegelapan, di mana hirarki Gereja sangat kuat mencengkeramkan kuku dan taringnya, aku bisa mengerti. Tapi di zaman sekarang? Di mana semua informasi dapat diakses dengan mudah... larangan semacam itu hanya menjadi lelucon. Zaman sudah berubah!

Boleh saja dibilang kaum klerus memiliki otoritas tertinggi dalam hal rohani. Tetapi orang zaman ini bukan lagi seperti kerbau dicocok hidung, yang dengan mudah diarahkan oleh para klerus. Bagi orang zaman sekarang, kebenaran tidak mutlak berada di tangan kaum klerus. Bukan mereka satu2nya pemegang otoritas kebenaran. Itu adalah ciri cara pikir orang zaman ini. Ecclesia semper reformanda! Itu yang mesti dilakukan jika Gereja tetap ingin mendapat tempat di hati orang. Kalau Gereja hanya berfungsi sebagai freezer dalam hal ajaran, ya isinya paling2 cuma daging potong alias bangkai. Tidak ada kesegaran!

Hal lain yang tak kalah menggelikan adalah larangan membaca The Da Vinci Code itu menunjukkan para kardinal itu masih meng-underestimate daya nalar umat. Mereka menganggap umat tidak mampu membedakan mana fiksi, mana fakta. Heran aku... gaya prakonsili kok ya masih dilestarikan! Apakah mereka takut kalau iman umat goyah?
Nyatanya sekian hari, sekian minggu setelah buku itu terbit, gereja2 masih ramai dikunjungi umat. Pastor2 masih dikunjungi umat. Uskup apalagi... Jadi kupikir kekhawatiran mereka itu mengada2. Apa mereka lupa, bahwa iman Kristen sudah teruji 2000 tahun lamanya? Coba, selama itu sudah berapa banyak bid'ah, aliran sesat yang merongrong iman Kristen? Tak terbilang! Nyatanya iman Kristen tetap tegak!

Boleh jadi orang beragama Kristen di Eropa menyusut jumlahnya. Tapi bukankah mereka yang beriman Kristen, dalam artian menjalankan ajaran Kristus, jumlahnya bertambah? Memang belum tentu mereka beragama Kristen. Tapi kenyataannya mereka menjalankan ajaran Kristus, malah tak jarang pelaksanaannya lebih baik daripada yang beragama Kristen. Bukankah kita patut bergembira?

Para klerus, biarkanlah umat memilih apa yang mereka maui. Apakah yang dilakukan itu dosa atau bukan, itu toh tanggung jawab pribadi. Zaman ini bukan lagi zaman melarang2 umat membaca buku kontroversial. Bukan zamannya lagi melarang2 umat menggunakan penalaran sendiri. Tugas kalian sebagai gembala memang untuk menyelamatkan domba yang sesat. Namun kalian tidak bisa melarang jika domba ingin pergi ke mana mereka suka. Syukur kalau domba mau mendengarkan dan mau diselamatkan. Jika tidak, biarkan! Apakah kalian lupa dengan Yehezkiel 3:16-21?

0 Comments:

Post a Comment

<< Home