Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Tuesday, July 19, 2005

FROM CLERING WITH SHOCK

Tahun 1996 aku masih tergabung dalam Kelompok Studi Biologi (KSB) Universitas Atma Jaya. Anggota kelompok itu di antaranya: Giri, Sipri, Dian, Elly, Tutik, OAL Delia, Dewi Perangin-angin, Widianta br Kemit, Diah, Naris, Elga, Kian Ping, Mangiring Hutagalung, Lisa, Ruth DI, Luhut, Bongriansen Saragih, Parlindungan, Tiur, Eva, Agung, Oktaf, Niken, Sri, Jojo, Stefanus, Deasy, Rara, Henry, Endru, dan beberapa lagi yang aku gak ingat namanya (sorry habisnya kalian gak ngetop sih!).
Nah, sekali peristiwa kami dapet sponsor dari BirdLife International Indonesia Programme untuk meneliti daerah Clering, apakah bisa dikategorikan sebagai kawasan IBA atau enggak. BirdLife International tu markas besarnya di negerinya Queen Elizabeth II sono. Trus IBA tu Important Bird Area. Program IBA tujuannya untuk mengidentifikasi semua daerah di dunia yang penting bagi burung (tuh kan... burung aja perlu tempat yang dikhususkan!).
Di Eropa, direktori IBA sudah dibuat tahun 1987 dan merupakan direktori IBA yang pertama di dunia. Nah, di Indonesia diharapkan tahun 2000 yang lalu penyusunan direktori IBA sudah kelar. Di Jawa, Madura, dan Bali (1996) ada 71 daerah yang jadi kandidat IBA.
Salah satu tempatnya adalah Clering itu. Clering merupakan cagaralam yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Konturnya berupa bukit di tepi pantai. Asyik banget! Dari puncak bukit kami bisa melihat Laut Jawa dengan ombaknya yang tenang.

Begini ceritanya...
Anggota KSB yang berangkat ke Clering adalah Giri, Sipri, Luhut, Ruth DI, Elly, Dian, Bongri, Tutik, Naris, Delia, Diah, Dewi Perangin-angin, Widianta br Kemit dan aku. Kami tahu, saat itu hubungan antara Sipri dan Naris lagi mesra-mesranya (ihik-ihik...). Ke mana-mana mereka berdua mulu (kecuali waktu mandi bo! Emangya mau dikeroyok orang sekampung?). Selama di Clering kami punya basecamp di rumah pak kuwu, istilah untuk kepala dusun sana. Sebelum masuk Clering, kami lebih dulu minta ijin pada kepala desa yang kebetulan seorang ibu, masih muda dan cantik lageee... (uhuy!). Terus kami ke Pak Budi, kepala KPH di sana. KPH apaan ya? Aku cuma ingat PH-nya, pemangku hutan.
Perjalanan dari Yogya ke Clering dengan angkutan umum ditempuh selama 12 jam. Gile! Habis bis yang kami tumpangi kelas ekonomi yang mesti menaikturunkan penumpang di jalan... Selain itu kami maklum juga angkutan pedesaan di Clering susah! Nah, selama di perjalanan itu terpaksa kami menahan keinginan untuk buang air besar. Kalau buang air kecil mah rada2 gampang dan enggak makan waktu lama. Tinggal cari semak2 aja... gyahahaha...
Mungkin karena menahan isi perut lama2 itu, maka begitu sampai di basecamp, Giri langsung mencari sungai (hey, di Clering gak ada kamar mandi lho!). Jongkoklah dia di bebatuan dengan angkuhnya.
BLUP! BLUP! BLUP!
Buseeet! Anjrot! Tiga potong - maaf - tinja berukuran panjang-besar dibongkarnya di sungai. Untunglah aliran airnya deras... Bahan polutan itu terbawa air dan melewati barisan anak2 cewek yang sedang berjalan ke rumah pak kuwu. Kontan terdengar semprotan sengak dari Dian, cewek paling mungil tapi paling galak di kelompok kami. Entah apakah dia tahu itu amunisi Giri atau tidak.
Malamnya kami dijamu oleh pak kuwu dengan makanan kecil. Namanya keripik gadung, dari umbi tumbuhan sejenis talas. Rasanya renyah. Tapi untuk mengolahnya menjadi keripik gadung perlu keahlian tersendiri. Apa pasal? Umbi gadung itu jika salah olah bisa bikin orang mêndêm alias mabuk.
Lantaran keripik gadungnya enak, berikut nafsu makan kami sangat besar, maka dengan segera keripik gadung berpindah tempat dari piring2 ke dalam perut kami. Apalagi dimakan bersama makanan andalan kami di alam bebas: Indomie. Kriuk-kriuk-kriuuuk! Nggak peduli cowok atau cewek, selera makan kami besar! Maklum orang lapangan.
Nah, malamnya kami melepas lelah sesudah seharian berdesak2an di angkutan umum bagai ikan pindang. Pak kuwu menyalakan radio transistornya yang menyiarkan wayang kulit. Aduh enaknyaaa... berbaring sambil mendengarkan siaran radio. Rupanya bunyi gamelan itu kuasa membuat kelopak mata kami menutup.
BROOOT! BROOOT!
Anjing! Kutu kupret!
Lagi enak2nya mau masuk ke alam mimpi, tiba2 ada yang kentut. Keras pula! Gas perut itu rupanya sebagai efek samping kerakusan kami menyikat keripik gadung. Mungkin karena jengkel mendapat serangan mendadak, lainnya membalas dengan tembakan yang tak kalah nyaring. Akupun tak mau ketinggalan. (Masa ditembak diam aja... enggak la yaw! Baleees!!!). Jadilah malam pertama di Clering kami isi dengan perang kentut! Dasar orang2 gila! Kejadiannya begini terus tiap malam selama seminggu, namanya bukan From Clering With Love tapi From Clering With Shock!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home