MAKAN GA MAKAN ASAL MAKAN!
Kalian tahu kan kenapa makhluk hidup mesti makan?
Betul! Demi menjaga kelangsungan hidupnya. Soalnya dengan makan, makhluk hidup bisa melangsungkan aktivitas hidupnya, termasuk mewariskan keturunan (uhuy!)
So, mana sih yang bener? Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?
Yaaa sama2 waelah... tergantung siapa yang ditanya. Kalau nanyanya ke orang yang sok filsafat, jawabnya ya: makan untuk hidup. Tapi kalau yang ditanya orang yang demen kerja keras, jawabnya ya: hidup untuk (cari) makan... kekekekeke...
Bicara soal makan, ada pandangan lain lagi. Orang Jawa punya pandangan: mangan ora mangan waton kumpul. Terjemahan bahasa Jepangnya: makan tidak makan asal kumpul. Ngerti kan? Ternyata kalian pinter2 bahasa Jepangnya ya?
Jadi pandangan nyang itu ngeliatnya dari sisi kekariban. Biarpun ga ada yang cukup dimakan, selama masih bisa kumpul ya alhamdulillah...
Pandangan itu sekarang dapet tandingan: kumpul gak kumpul sing penting mangan. Kumpul enggak kumpul yang penting makan! Kelihatannya egois banget ya? Tapi memang itu realita zaman sekarang. Kekariban enggak penting lagi. Pokoknya nggede'in perut sendiri dulu. Iya kan? Apalagi di zaman serba susah gini. BBM susah, sekolah susah, nyari kerja susah, sakit susah, mati pun susah, bener2 bikin orang susah semakin susah. Susah ya?
Sekali waktu aku dan anak2 Kelompok Studi Biologi Atma Jaya ngadain acara latsar, pelatihan dasar di Wanagama. Hutan yang dikelola oleh UGM, lokasinya di Gunungkidul (di tempat itu ada pohon cendananya juga). Lumayan cocok juga untuk latsar, biarpun masih jauh dari ideal. Konturnya yang berbukit-lembah, hutannya yang saat kemarau menggugurkan daun, tanahnya yang rada berbatu, bener2 menyenangkan. Hewan buruan macam rusa jelas enggak ada. Paling banter biawak dan ular.
Apakah kami makan biawak dan ular?
Enggak dong! Nangkepnya aja susah!
Kami bawa dua boks Indomie dan 5 kg beras. Itulah makanan kami selama latsar. Tapi selama latsar kami juga dapet ubi jalar dan singkong yang tumbuh di sekitar hutan. Lumayan buat variasi menu.
Ubi jalar dan singkong itu kami pendam di dalam tanah, lantas di atasnya kami membuat api unggun. Esok harinya begitu api unggun padam, kami gali tanah dan sarapan dengan ubi jalar dan singkong semalam. Hmmm... empuk, harum, hangat, dan ueeenak rasanya! Gak percaya? Buktikan sendiri!
Entah dari mana datangnya ilham, tiba2 timbul keinginanku untuk makan daun2an. Berbekal pengetahuan jenis daun mana yang aman dimakan dan tidak, akupun melenggang sepanjang jalan. Kalau daun itu tidak bergetah, pasti aman. Begitu pikirku. Makan gak makan asal makan! Sakit atau enggak kan takdir ilahi.
Aku tidak ingat lagi daun macam apa saja yang sudah kukunyah dan masuk ke dalam ventrikulus. Tapi malamnya, perutku terasa kembung tapi melilit. Mau minta tolong, malu (huuu... dasar kegedean gengsi!). Maka kutahan saja rasa perih yang menjerat perut. Kali aja karena enggak biasa makan daun mentah ya? (Yaaa... gak bisa ngaku2 sebagai orang Sunda nih). Aku cemas kalau2 kutub selatanku enggak bisa nahan. Bisa2 jebol angin yang berputar2 di dalam perut. Kali aja kalau aku makan daun cendana, kentutku bisa wangi ya?
Rupanya gelagatku yang kesakitan terlihat oleh pembina.
"Kenapa? Sakit perut?" tanyanya.
"Iya," jawabku pendek.
"Nih, minum ini saja," katanya sambil menyodorkan segelas kopi pait yang didalamnya ada arang dari api unggun. Masih berasap pula! Namanya KOPI JOSSS... karena waktu bara arang itu diserap oleh air kopi meninggalkan bunyi, "Jooosss..."
Ternyata obat itu manjur. Rasa perih di perut berkurang. Maka aku mulai berani menyuap mi rebus yang sebenarnya sudah melambai2 menarik selera makanku sejak tadi. Mi rebus itu sudah dingin dan ngembang. Tapi apa boleh buat. Daripada gak makan malam.
Dari kejadian itu aku belajar, bahwa enggak boleh asal makan. Prinsip makan ga makan asal makan ternyata salah besar! Akibat asal makan ya sakit perut! Dan sakit perut gak ada kaitannya ama takdir ilahi. Sakit perut ya sakit perut aja. Disebabkan diri sendiri, bukan takdir dari Tuhan. (Maaf ya, Boss Besar, aku sudah "menuduh" dan membawa2 nama-Mu sebagai penyebab sakit perutku).
Betul! Demi menjaga kelangsungan hidupnya. Soalnya dengan makan, makhluk hidup bisa melangsungkan aktivitas hidupnya, termasuk mewariskan keturunan (uhuy!)
So, mana sih yang bener? Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?
Yaaa sama2 waelah... tergantung siapa yang ditanya. Kalau nanyanya ke orang yang sok filsafat, jawabnya ya: makan untuk hidup. Tapi kalau yang ditanya orang yang demen kerja keras, jawabnya ya: hidup untuk (cari) makan... kekekekeke...
Bicara soal makan, ada pandangan lain lagi. Orang Jawa punya pandangan: mangan ora mangan waton kumpul. Terjemahan bahasa Jepangnya: makan tidak makan asal kumpul. Ngerti kan? Ternyata kalian pinter2 bahasa Jepangnya ya?
Jadi pandangan nyang itu ngeliatnya dari sisi kekariban. Biarpun ga ada yang cukup dimakan, selama masih bisa kumpul ya alhamdulillah...
Pandangan itu sekarang dapet tandingan: kumpul gak kumpul sing penting mangan. Kumpul enggak kumpul yang penting makan! Kelihatannya egois banget ya? Tapi memang itu realita zaman sekarang. Kekariban enggak penting lagi. Pokoknya nggede'in perut sendiri dulu. Iya kan? Apalagi di zaman serba susah gini. BBM susah, sekolah susah, nyari kerja susah, sakit susah, mati pun susah, bener2 bikin orang susah semakin susah. Susah ya?
Sekali waktu aku dan anak2 Kelompok Studi Biologi Atma Jaya ngadain acara latsar, pelatihan dasar di Wanagama. Hutan yang dikelola oleh UGM, lokasinya di Gunungkidul (di tempat itu ada pohon cendananya juga). Lumayan cocok juga untuk latsar, biarpun masih jauh dari ideal. Konturnya yang berbukit-lembah, hutannya yang saat kemarau menggugurkan daun, tanahnya yang rada berbatu, bener2 menyenangkan. Hewan buruan macam rusa jelas enggak ada. Paling banter biawak dan ular.Apakah kami makan biawak dan ular?
Enggak dong! Nangkepnya aja susah!
Kami bawa dua boks Indomie dan 5 kg beras. Itulah makanan kami selama latsar. Tapi selama latsar kami juga dapet ubi jalar dan singkong yang tumbuh di sekitar hutan. Lumayan buat variasi menu.
Ubi jalar dan singkong itu kami pendam di dalam tanah, lantas di atasnya kami membuat api unggun. Esok harinya begitu api unggun padam, kami gali tanah dan sarapan dengan ubi jalar dan singkong semalam. Hmmm... empuk, harum, hangat, dan ueeenak rasanya! Gak percaya? Buktikan sendiri!
Entah dari mana datangnya ilham, tiba2 timbul keinginanku untuk makan daun2an. Berbekal pengetahuan jenis daun mana yang aman dimakan dan tidak, akupun melenggang sepanjang jalan. Kalau daun itu tidak bergetah, pasti aman. Begitu pikirku. Makan gak makan asal makan! Sakit atau enggak kan takdir ilahi.
Aku tidak ingat lagi daun macam apa saja yang sudah kukunyah dan masuk ke dalam ventrikulus. Tapi malamnya, perutku terasa kembung tapi melilit. Mau minta tolong, malu (huuu... dasar kegedean gengsi!). Maka kutahan saja rasa perih yang menjerat perut. Kali aja karena enggak biasa makan daun mentah ya? (Yaaa... gak bisa ngaku2 sebagai orang Sunda nih). Aku cemas kalau2 kutub selatanku enggak bisa nahan. Bisa2 jebol angin yang berputar2 di dalam perut. Kali aja kalau aku makan daun cendana, kentutku bisa wangi ya?
Rupanya gelagatku yang kesakitan terlihat oleh pembina.
"Kenapa? Sakit perut?" tanyanya.
"Iya," jawabku pendek.
"Nih, minum ini saja," katanya sambil menyodorkan segelas kopi pait yang didalamnya ada arang dari api unggun. Masih berasap pula! Namanya KOPI JOSSS... karena waktu bara arang itu diserap oleh air kopi meninggalkan bunyi, "Jooosss..."
Ternyata obat itu manjur. Rasa perih di perut berkurang. Maka aku mulai berani menyuap mi rebus yang sebenarnya sudah melambai2 menarik selera makanku sejak tadi. Mi rebus itu sudah dingin dan ngembang. Tapi apa boleh buat. Daripada gak makan malam.
Dari kejadian itu aku belajar, bahwa enggak boleh asal makan. Prinsip makan ga makan asal makan ternyata salah besar! Akibat asal makan ya sakit perut! Dan sakit perut gak ada kaitannya ama takdir ilahi. Sakit perut ya sakit perut aja. Disebabkan diri sendiri, bukan takdir dari Tuhan. (Maaf ya, Boss Besar, aku sudah "menuduh" dan membawa2 nama-Mu sebagai penyebab sakit perutku).


0 Comments:
Post a Comment
<< Home