Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Sunday, July 24, 2005

CINTA HANYA MEMBERI

Pernahkah kalian mendengar cerita The Giving Tree?
Udah? (Kalo udah jangan baca... lewatin aja!)
Belum? Nah, yang belum pernah... dengerin - eh, bacalah cerita aku. Boleh sambil ngebayangin aku sedang duduk bercerita kepada kalian.
Musik pembukaan: sol-mi-fa-re... sol-re-mi-do... Perhatian... perhatian (loh... kok jadi kayak di stasiun sih?).
Salah!
Musik pembukaan: ti-tu-tiiiii...boo-bee-bii-boooo... (kebayang musik film dracula enggak sih?).
Salah lagi!
Musik pembukaan: mi-fa-mi-do-re mi-fa-miii-do-reee... (ini sih Anak Gembala-nya Tasya... yo wis gak apa2 wis! Daripada nggak jadi cerita)
Begini nih ceritanya:
Ada seorang anak bersahabat dengan sebatang pohon yang besar dan buahnya banyak. Setiap hari anak itu bermain2 di sekitar pohon. Mengejar serangga, menangkap kupu2, melihat bunga rumput mekar, main ayunan di cabangnya, pokoknya permainan anak lah!
Menjelang siang, anak itu kelelahan.
Anak: Pohon, aku capek. Aku ingin istirahat. Bisakah kau beri tempat istirahat yang nyaman?
Pohon: Aku tidak punya tempat tidur. Tapi akan kuberikan daun2ku untuk menaungimu. Kamu bisa berbaring di bawah rimbunnya daunku. Semoga kamu akan merasa bahagia karenanya.
Maka tidurlah anak itu di bawah pohon. Daun2 pohon melindunginya dari panas matahari dan meniupkan angin sepoi2 ke wajah anak itu. Pohon merasa gembira bisa berguna bagi anak itu.
Ketika bangun, anak itu merasa lapar.
Anak: Aku lapar. Bisakah kau memberiku buah?
Pohon: Tentu. Petiklah dan makanlah. Dan semoga kamu akan bahagia memakannya.
Maka anak itu memetik beberapa buah yang matang dan memakannya.
Pohon merasa bahagia karena bisa membahagiakan anak itu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Lama anak kecil itu tidak bermain lagi di sekitar pohon. Pohon itu sangat rindu pada si anak. Dengan kesabaran dia menanti dengan hati sedih.
Suatu hari anak itu lewat di dekat pohon. Kini dia sudah dewasa. Sang pohon menggoyangkan cabang2nya dengan gembira.
Pohon: Hai! Sobat, kemarilah! Mari bermain bersamaku! Berayun-ayunlah di cabangku seperti dulu.
Anak: Aduh... aku sangat sibuk. Aku capek dan nggak mau manjat2 lagi!
Pohon menjadi sedih.
Anak: Aku sudah bukan anak2 lagi. Aku perlu rumah untuk melindungi aku dari dingin. Aku akan mencari isteri dan segera menikah. Aku ingin punya anak. Aku ingin tinggal di rumah yang hangat bersama keluargaku. Dapatkah kamu memberiku rumah?
Pohon: Aku tidak punya rumah untuk diberikan kepadamu. Rumahku adalah hutan ini. Tetapi aku bisa memberikan cabang2ku untukmu. Kamu bisa membuatnya menjadi rumah. Dan kamu akan bahagia.
Maka anak yang sudah tumbuh dewasa itu memotong cabang2 pohon besar dan membangun rumah. Pohon merasa senang karena dia bisa membahagiakan anak itu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Lama anak itu tidak datang. Namun demikian si pohon tetap setia menanti kendati dengan sedih hati. Dia merindukan tawa riang anak yang bermain2 di sekelilingnya.
Suatu hari lewatlah anak yang ditunggu2. Pohon menggoyangkan batangnya dengan gembira.
Pohon: Kemarilah! Mari bermain bersamaku! Aku rindu padamu.
Anak: Maafkan aku, Sobat. Tetapi aku perlu kerja untuk mencukupi keperluan rumah tanggaku. Aku akan berlayar jauh. Dapatkah kau memberiku perahu?
Pohon: Aku tidak punya perahu. Aku hanya punya batang. Tebanglah dan pakailah untuk membuat perahu yang kauinginkan. Dan kamu akan bahagia.
Maka ditebanglah batang pohon besar itu. Yang tersisa hanyalah tunggul dan akarnya. Si anak membuat perahu dan dia berlayar meninggalkan kampung halamannya. Bekerja di negeri seberang.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Anak yang tumbuh dewasa itu kini menjadi tua. Menjadi seorang kakek. Isterinya sudah lama meninggal, anak2nya sudah berkeluarga. Maka dia kembali ke kampung halamannya.
Sementara si pohon masih setia menunggu, kendati kini tinggal tunggulnya saja.
Tatkala melihat orang yang dicintainya lewat, pohon itu menggoyangkan tunggulnya.
Pohon: Kemarilah! Mari bermain bersamaku! Aku rindu padamu.
Anak: Aku sudah tua. Tidak kuat lagi bermain. Aku ingin istirahat. Dapatkah kau memberiku tempat duduk?
Pohon: Kalau begitu, duduklah di tunggulku. Dan kamu akan bahagia.
Maka duduklah dia di tunggul pohon. Pohon merasa bahagia karena telah memberikan cintanya, dirinya utuh kepada si anak. Pohon bahagia karena mencintai.
Sementara si anak sambil duduk di tunggul merenung, betapa pohon itu telah memberi diri sepenuh kepadanya. Daun, buah, cabang, batang, dan kini walau hanya tunggul, diberikannya juga. Laki2 itu merasa terharu atas kebaikan pohon itu. Pohon itu tak minta banyak, hanya minta persahabatan yang tulus. Sebaliknya dia telah menerima banyak ketulusan dari pohon. Pohon itu memberi, memberi, dan memberi terus kepadanya.
Musik penutup: Kalian bayangkan Forever Love-nya Gary Barlow aja deh! Atau You Raise Me Up-nya Josh Groban.

Wheeew... gimana? Dah selesai ceritanya.
Bisa enggak ya kita bersahabat dengan tulus? Bisa enggak kita mencintai dengan selalu memberi? Kata orang bijak, cinta itu hanya memberi, tidak pernah meminta. Rasanya kata2 itu sungguh benar. Cinta hanya memberi dan memberi. Indahnya!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home