MALAM PRESENTASI YAMASHITA
Empat Agustus dua ribu lima, malam hari. Graha Santika Hotel, Semarang.
Acara baru mulai pukul 19.40. Kenapa enggak sekalian pukul 20.00 aja ya? Biar yang nunggu pada gondok. Ya nggak? Pembukaannya dilakukan oleh Jero Wacik (wacik ketan, wacik bandung, wacik Ny. Week, wacik apa terserah deh), Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Dia ngomong banyak tentang RRC dan sedikit India. Katanya 20% dari jumlah penduduk kedua negara adalah golongan menengah ke atas. Dua puluh persen itu kira2 equal dengan jumlah total penduduk Indonesia sekarang.

Di akhir acara... itulah tidak sopannya aku. Begitu saja meninggalkan Netty tanpa pamit. Padahal kami sudah ngobrol cukup banyak tentang foto2 Yamashita-sensei. Aduuuuh... maafkan daku, Netty-san! Aku bukan sengaja melakukannya. Syaraf tak sadarku rupanya bekerja lebih baik dibanding syaraf sadarku saat itu... hehehe...
Aku segera memburu Yamashita-san. Dia sibuk melayani permintaan tanda tangan dari sekian banyak orang. Nyesel aku enggak bawa majalah National Geographic edisi Cheng Ho Juli lalu. Kalau aku bawa, kan bisa ikut minta tanda tangan.
Sejak sore aku sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti acara yang digelar oleh National Geographic Indonesia: Presentasi Foto dan Kisah Perjalanan Michael Yamashita. Sebagai member dari National Geographic Society, aku nggak boleh melewatkan kejadian ini.
Pukul 18.00 aku berangkat dari rumah. Masuk kawasan hotel kira2 pukul 18.30-an. Masih ada waktu 1/2 jam kupikir. Setelah melalui pemeriksaan petugas (kali aja aku bawa TNT), aku parkir kendaraan. Kemudian aku menapaki anak tangga menuju ballroom.Ups... rupanya ballroom masih digunakan untuk seminar. Banyak mahasiswa Undip yang di depan pintu ballroom. Aku taunya ya dari jas almamater mereka. (Hehehe... pake jas almamater, jadi inget waktu kuliah dulu nih...). Di samping para mahasiswa itu ada juga orang2 dari NG sedang ngatur meja, lembar panel, dan buku2 National Geographic.
Sampai pukul 19.00 acara di ballroom belum kelar. Wheeew... udah tradisi... molor!! Kulihat Yamashita-san beberapa kali lewat di muka ballroom. Kemudian lenyap. Kali aja dia balik ke kamarnya.Acara baru mulai pukul 19.40. Kenapa enggak sekalian pukul 20.00 aja ya? Biar yang nunggu pada gondok. Ya nggak? Pembukaannya dilakukan oleh Jero Wacik (wacik ketan, wacik bandung, wacik Ny. Week, wacik apa terserah deh), Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Dia ngomong banyak tentang RRC dan sedikit India. Katanya 20% dari jumlah penduduk kedua negara adalah golongan menengah ke atas. Dua puluh persen itu kira2 equal dengan jumlah total penduduk Indonesia sekarang.
Aku dapet tempat duduk yang lumayan strategis. Bisa langsung menatap ke layar proyektor ukuran besar. Lagi enak2nya menikmati ruangan, datanglah dua orang muda-mudi. Mereka mengambil tempat duduk tidak jauh dariku. Kalau saja aku tidak bertanya, aku akan mengira mereka dari kalangan press. Tapi karena keisenganku, jadi tahulah aku kalau mereka adalah chirigaku-sei, mahasiswa geografi UGM.
Cewek yang duduk di sebelahku mengenakan busana muslim-modern. Dia memperkenalkan namanya: Netty, gitu. Apa nama panjangnya, aku enggak nanya. Yang pasti bukan: Neeeeettyyyyyyy. Aku enggak nanya siapa nama teman cowoknya. Habis duduk dia jauhan sih. Mereka berangkat dari Yogya pukul 13.00, menurut pengakuan Netty. Nih pic dia... centil enggak sih? Huehuehuehehe...
Omong punya omong akhirnya aku nanya, "Punya alamat e-mail?"
"Ya, punya," jawabnya.
"Boleh saya minta alamatnya?" Aku mengulurkan kertas dan pensil.
"Boleh."
Jadilah kami bertukar alamat e-mail dan friendster.
Balik ke acara presentasi deh...Hasil jepretan Michael Yamashita benar2 memikat mata. Lighting dan angle yang dipilih begitu bagus. Pastilah karena pengalaman yang bertahun2. Enggak mungkin kan jadi fotografer profesional (di National Geographic pula) hanya dengan belajar semalam. Selain itu foto2 yang dipresentasikan pastilah hanya sepersekian dari puluhan ribu frame klise film. Pasti enggak kehitung lagi berapa rol dia habiskan.
Foto2nya dapat bercerita meski tanpa narasi. Dengan foto2 itu kami mendapat gambaran bagaimana dulu Cheng Ho melakukan ekspedisinya hingga tujuh kali. Dahsyat man!Di akhir acara... itulah tidak sopannya aku. Begitu saja meninggalkan Netty tanpa pamit. Padahal kami sudah ngobrol cukup banyak tentang foto2 Yamashita-sensei. Aduuuuh... maafkan daku, Netty-san! Aku bukan sengaja melakukannya. Syaraf tak sadarku rupanya bekerja lebih baik dibanding syaraf sadarku saat itu... hehehe...
Aku segera memburu Yamashita-san. Dia sibuk melayani permintaan tanda tangan dari sekian banyak orang. Nyesel aku enggak bawa majalah National Geographic edisi Cheng Ho Juli lalu. Kalau aku bawa, kan bisa ikut minta tanda tangan.
Setelah kerumunan agak berkurang, aku dekati dia dan berkata, "Yamashita-san, anata no shashin o totte mo ii desu ka?"
Dia memandangku sejenak. Lalu dia mengangguk. Jadilah kami berfoto bersama dengan juru kamera si Tantyo Bangun, yang jadi boss-nya National Geographic Indonesia. Hehehe... lumayaaaaan... Nih hasil jepretannya:
Kapan lagi ada acara seperti ini bakal digelar oleh Majalah NG ya? Di Semarang atau di Yogya gitu, biar mudah kujangkau. Siapa tahu bakal ketemu dengan Netty lagi huehuehuehehe...


0 Comments:
Post a Comment
<< Home