IN MEMORIAM LORENZO SCAGLIA

Semalam saudaraku semasa di novisiat, Yitro menghubungiku via sms. Saat ini dia kuliah di Perbanas. Dia menyatakan kerinduannya akan masa2 di novisiat. Katanya, masa2 itu sangat indah dan penuh rasa kekeluargaan. Sekarang ini dia merasa kesulitan karena tidak ada teman kuliahnya yang bisa dia percayai penuh. Memang sih waktu di novisiat dulu ada saudara2 sekomunitas yang bisa dijadikan tempat curhat.
Kalau saudaraku itu merindukan keakraban seperti di novisiat, aku bisa maklum. Sejak sekolah menengah dia sudah terbiasa hidup dalam komunitas besar di sebuah seminari. Di novisiat meskipun tidak besar komunitasnya, tetap saja namanya komunitas. Nah, sekarang dia mesti hidup di luar komunitas alias mandiri. Di kota besar macam Jakarta pula! Kalau ada semacam gegar-budaya yang dia alami, ya wajar.
Memang sih hidup di dalam komunitas di Casa Xaveriana itu segala2nya terjamin. Makan, minum, istirahat, belajar, bermain... semua terjamin. Tidak perlu susah payah mengusahakannya sendiri. Sekarang... di luar, segala2nya mesti diurus sendiri.
Wheeew... ngomong2 soal komunitas di Casa Xaveriana, aku jadi ingat dengan almarhum Pastor Scaglia. Lengkapnya Lorenzo Scaglia. Tepat bulan ini, setahun yang lalu P. Scaglia dipanggil pulang ke rumah Bapa di surga.
P. Scaglia orangnya unik, lucu, dan selalu tampil riang. Saat marah pun kelucuannya tidak berkurang. Oh ya, sebagai informasi, P. Scaglia itu kelahiran Brescia, Italia. Brescia adalah kota penghasil senjata api terkenal: Beretta. Tahu enggak kalian di mana letak Brescia? Oke kuterangin dikit deh!
Brescia itu terletak di Italia Utara, antara kota Milano (Milan) dan Verona. Lebih tepatnya sih antara Bergamo dan Verona, cuman karena Bergamo kota kecil dan letaknya sedikit ke utara... ya "dilewati" aja! Urut2an dari barat ke timur tuh begini: Torino (Turin) - Milano - Bergamo - Brescia - Verona - Padova (Padua) - dan paling timur adalah Venezia. Di antara Verona dan Padova ada danau cukup besar dan indah, namanya Lago di Garda atau Danau Garda. Nah, begitu kira2 urutannya. Lain kali kalau ke Italia Utara, jangan lupa ajak aku ya! Jadi guide tanpa bayaran pun mau... huehehehe...
Meskipun kelahiran Brescia, tapi P. Scaglia itu fanatik dengan klub sepak bola AC Milan. Kami yang pernah dibimbingnya pun mesti ikut jadi pendukung AC Milan. Nih, fotonya ketika kami kompak pakai seragam rossoneri ala AC Milan di Casa Xaveriana! Rosso itu merah, neri itu hitam.
Berbeda dengan para pastor lainnya yang selalu serius dalam mengajar, bahkan pakai metode psikologi segala, P. Scaglia tidak. Dia punya gaya mengajar tersendiri. Kocak abis! Sepanjang jam pelajaran dia mampu mengocok perut kami sampai keras. Dia juga mengajari kami lagu2 Italia. Di antaranya adalah "O, Bella Ciao" dan "La Rivista del Corredo (E Le Stellette)".
Oke deh... untuk mengenang P. Scaglia, aku ingin mengutip kata2 almarhum Bapa Suci Johanes Paulus II ketika hadir dalam World Youth Day di Denver, USA. Begini kata Bapa Suci:
"La vita dice sempre la parola più piena, dice tutto. Vi auguro di riflettere su questa parola, su questa realtà della vita, così diversificata nella creazione, anche in noi così diversificata." terjemahannya:
"Life speaks always with the fullest meaning, it says everything. I hope you will reflect about what it says, about this reality of life, or diversified in creation, also in ourselves."
Hidup P. Scaglia telah mencerminkan kata2 Bapa Suci, kurasa. Dan kini dia telah memiliki kepenuhan hidup, lebih daripada ketika bersama2 dengan kami, oleh karena dia telah berjumpa dengan Bapanya di surga. Semboyan hidupnya: Amor Vincit Omnia atau Love Conquer All tetap kukenang. Pastor Scaglia... bella ciao!


0 Comments:
Post a Comment
<< Home