Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Sunday, May 25, 2008

Intermezzo

Kata dan kalimat yang akan kalian baca hanya sekadar intermezzo. Sekadar pelepas tegangan akibat chain reaction yang disebabkan kenaikan harga-harga dan BBM. Oleh karena itu, jangan terlalu dipikirkan... Santai saja!
BBM = Bola-Bali Mundhak (Jawa: Bolak-Balik Naik), Beban Bertambah Menekan, Bikin Bingung Masyarakat
SBY = Senang Bikin You [susah], Suka Becanda Yang [tidak lucu], Suka [janji] Bohong Ya!
JK = Juragan Kapitalis, Janji-janji Kosong
SBY-JK = Susah Bensin Ya Jalan Kaki
BLT = BOLOT, Bantuan Langsung Tekor, Bantuan Langsung Tombok, Bambang Leda-lede Tok

Tuesday, May 13, 2008

Negeri Saudagar

Adalah sebuah negeri di muka bumi. Sungguh negeri permai, elok tak terperi. Menjadi bahan gunjingan dari abad ke abad. Menjadi rebutan dari negeri seberang. Namun sayang seribu sayang. Rakyatnya yang berlaksa-laksa, miskin terhina. Mereka menjadi kasut bagi pemimpin negeri yang tiada berhati nurani. Hanya kepeng dicari untuk memperkaya diri. Anak-anak negeri telah hilang harga diri, dijual kepada ketamakan segelintir punggawa negeri. Jiwa saudagar pencari laba telah meraja, menggantikan jiwa kenegarawanan belaka.
Saudagar tiada punya rasa patriotisme. Negeri mereka adalah di mana uang berada. Bila perlu menjual kekayaan bangsa. Alangkah sedih menjadi rakyat di negeri para saudagar. Segala-gala diukur dengan kepeng berbinar. Mereka harus berjajar menunggu minyak dan keperluan sehari-hari yang harganya terus meninggi benar. Sementara para saudagar memperdagangkan semuanya: politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan diri mereka sendiri. Para saudagar telah melacurkan diri demi uang dan uang. Alangkah sedih benar!

Saturday, July 28, 2007

Do not judge

Do not judge. Lest I shall judge you
Do not condemn. Lest I shall condemn you


Bagi siapapun yang memiliki otoritas tinggi dapat dengan mudah menjatuhkan penghakiman maupun kutukan. Mereka merasa menjadi pemegang satu-satunya kebenaran yang mutlak. Segala yang tidak sesuai dengan ukuran yang mereka miliki adalah keliru, salah, hujatan, dan pantas dilenyapkan dari muka bumi.
Banyak pemuka agama seringkali menjadi pemegang otoritas mutlak. Mereka bukan saja merasa menjadi wakil Tuhan di bumi, melainkan merasa sebagai Tuhan itu sendiri.
Pengikut agama yang berwawasan sempit pun tidak kalah mengerikan. Mereka bisa merusak, menghancurkan, bahkan membunuh orang-orang yang mereka anggap mengikuti ajaran menyimpang. Sejarah panjang umat manusia telah menorehkan kisah-kisah memilukan ini: penindasan manusia dan pemusnahan etnik atas nama otoritas agama.
Perang Salib adalah contoh yang tidak bisa dilupakan. Demi materi dan kekuasaan, ajaran agama dijadikan pembenaran atas perang. Terorisme yang akhir-akhir ini merebak, tidak jarang menggunakan ayat-ayat kitab suci untuk membenarkan tindakan. Agama-agama rakyat, agama suku, agama asli penduduk lokal, disingkirkan atas nama Tuhan yang dikenal oleh agama-agama yang bersumber dari Timur Tengah karena dianggap takhayul bodoh, budaya primitif, penyembahan berhala. Siapakah yang sebenarnya penyembah berhala?

Religion should never be used to justify discrimination or justify hatred against anyone.

Tuesday, December 20, 2005

The Most Dangerous Disease

There is the most dangerous disease in our life.
Is it AIDS?
No!
Is it avian flu?
No!
So?
The most dangerous disease in our life are:
HATRED
DISCRIMINATION
IGNORANCE

Thursday, October 27, 2005

Aku Kembali

Whew... sudah sebulan lebih aku tidak membuka blog ini, rasanya kangen banget. Yah... gara2 punya dua blog, maka blog ini jadi nggak keurus dengan baik. Aku lebih sering mampir di friendster blog. Habis mau gimana lagi? Kadang2 kepengin bisa nulis dua2nya bersamaan. Tapi isi kepala ini rasanya seret buat dibongkar.
Selain itu aku masih harus menyelesaikan naskah di luar blog ini. Ditambah menyelesaikan gambar untuk cerita bergambar. Duuuh... sepertinya waktu 24 jam nggak cukup nih! Udah dibela2in begadang menghabiskan bergelas2 kopi, masih juga kurang. Kurus jadinya aku!
Rasanya enggak enak juga tiap kali ketemu teman yang nanyain kapan novelku selesai. Aku tahu mereka ingin segera membaca hasil karyaku.
Eeeh... udah dulu deh! Kalau lama2 di depan website bisa lupa nerusin nulis novel...
Daaag!

Thursday, September 08, 2005

SEPTEMBER KELABU

Kalau tahun 80-an dulu ada judul lagu "Desember Kelabu" yang dinyanyikan oleh Maharani Kahar, tampaknya sekarang bukan Desember lagi yang kelabu. September-lah yang kelabu. "September Ceria" agaknya mesti menyingkir buat sementara. (Tetapi Desember Kelabu pasti akan dikenang oleh rakyat Aceh dan Nias).
Bagaimana tidak? Beberapa tahun belakangan ini, semenjak meledak aksi terorisme di seluruh dunia, September selalu membuat orang was2. Malah permulaan bulan ini saja ada Mandala PK-RI 091 yang naas. Belum lagi korban amukan Katrina di Mississippi dan Louisiana, juga topan Nabi (b. Korea: kupu2) yang melanda Jepang.
Kenapa ya? Sebenarnya bukan tahun2 belakangan ini September menyentak perhatian. Waktu Olympiade di Jerman dulu juga ada peristiwa Black September, di mana para teroris menghabisi atlet2 Israel. (Tuh... teroris lagi!). Apakah memang bulan ke-9 dalam kalender Masehi ini merupakan titik kulminasi buat para teroris untuk bergerak? (Dan sekarang alam pun ikut2an).
Kalau dulu orang percaya bahwa bulan Maret-lah yang paling berisiko lantaran dikuasai oleh Dewa Ares atau Dewa Mars (dewa perang), terbukti Hitler menyerang kota Danzig/Gdansk (Polandia) pada bulan Maret. Tampaknya sekarang Dewa Mars ada di bulan apapun. Di Indonesia pastinya dia senang sekali karena rakyatnya mudah digombali, dipanas2i, dan diadu domba. Lihat saja, di hampir semua tempat Pilkada rusuh. Soal2 sepele pun bisa memicu aksi bakar2an, ancur2an. Bangsa ini enggak belajar menggunakan otak. Otot melulu yang dipamerkan (Habis ada contohnya di Senayan sih!). Ngomong2 tentang Senayan... mau nggak mau bikin kita terus menghela nafas panjang. Kok ya ada calo2 di DPR!
Ah... jadi pusing sendiri aku!
Udahan ah!

Sunday, August 28, 2005

KERJA

Kerja. Entah bagaimana kalian memandangnya. Tetapi kerja itulah yang membedakan manusia dari binatang. Binatang bisa mencukupi keperluan hidupnya karena alam menyediakannya. Secara naluri mereka "belajar" untuk mendapatkan makanan. Fisik mereka ditempa untuk mendapatkan mangsa. Sementara manusia, mesti menempuh jenjang pendidikan untuk bisa bekerja, yang akhirnya untuk memenuhi keperluan jasmaninya.
Kerja. Adalah amanat Ilahi yang diberi sesudah amanat: bertambah banyaklah dan kuasailah bumi. Manusia berpeluh-keringat untuk bisa bekerja.
Kerja zaman ini jauh berbeda dengan kerja zaman yang telah lampau. Zaman berburu dan meramu sudah lewat. Zaman bercocok tanam yang ada sekarang pun jauh berbeda dengan dulu. Bertani zaman sekarang banyak melibatkan teknologi madya dan maju.
Zaman ini pekerjaan yang paling banyak dicari orang adalah kerja kantoran. Tak mungkin disangkal! Jika orang ditawari: kerja kasar atau kerja kantoran, pastilah lebih banyak yang memilih kerja kantoran.
Aku pernah mengalami keduanya. Ada pahit-manis tersendiri.
Entah mengapa aku tidak tertarik kerja kantoran - kalau itu boleh dibilang kantor. Suasana di kantor senyaman apapun tidak membuatku betah bekerja. Aku pernah menjadi atasan, katakan saja begitu, juga pernah menjadi bawahan. Status itulah yang tidak kusukai. Atasan-bawahan. Aku tidak suka menjadi atasan, tidak juga suka menjadi bawahan. Maka aku memutuskan kerja di luar kantor. Tanpa status atasan-bawahan. Juga tidak punya atasan maupun bawahan. Aku bekerja dari rumah.
Cara kerjaku ini rupanya tidak disukai oleh bapakku. Bagi dia, kerja di rumah sama saja dengan pengangguran. Aku tidak terlalu menanggapinya. Ini hanyalah perbedaan sudut pandang tentang apa itu kerja. Bagi bapakku, yang pensiunan PNS, kerja adalah di kantor. Entah itu instansi pemerintah atau swasta. Tak bisa di tawar. Kerja di luar itu (rumah, LSM) baginya bukan kerja. Aku tidak menyalahkan cara pandangnya karena bapak dibesarkan dalam dunia itu. Zaman bapak beda dengan zamanku. Tapi apa boleh buat? Aku tidak bisa menyenangkan setiap orang, sekalipun itu bapakku sendiri. Haruskah aku mengorbankan kebahagiaan kerjaku demi memenuhi keinginan bapakku? Sesuatu yang sama sekali tidak akan kulakukan! Bukannya aku mau jadi anak durhaka yang melawan keinginan orang tua. Tetapi zaman sudah berubah!