Ceprot!
Kata orang begitu caranya membunyikan sesuatu yang keluar dari tempat sempit ke tempat yang lebih luas. Misalnya bunyi es cendol yang diplastikin, lalu jatuh ke lantai... Ceprot!
Cendol2 yang semula berenang2 ria itu berhamburan dari plastik yang sempit ke lantai. Begitulah... sebentar saja semut2 nakal ngerubutin cendol2 manis. Aku dilahirkan manis, lebih manis dari es cendol!
Ceprot!Begitulah kira2 ketika aku lolos melewati saluran sempit, dari rahim bunda tercinta ke alam luas yang liar dan ganas. Mamma mia! Sungguh... kalau bisa memutar time and mass kembali ke masa lalu, aku pengin tetep di dalam rahim. Tapi berhubung belum diciptakan mesin quantum leap, apa boleh buat... kujalani saja hidup ini. Susah-senang, tangis-tawa, kecewa-bahagia... itu semua warna hidup yang mesti kulalui. (Kalian pasti juga dong!). Makanya alam-liar-ganas mau tidak mau mesti kuhadapi. Bahkan bila perlu aku belajar dari mereka. Kata orang Minang: alam takambang menjadi guru... Iya kan? Ceprot!
Syukurlah aku dilahirkan dalam nama cinta. Jadi patutlah aku bersyukur karena aku merupakan wujud penyatuan dua cinta anak manusia. Ayah-bunda. Aku tidak tahu bagaimana rasanya anak2 yang dilahirkan bukan karena cinta, melainkan karena perkosaan dan paksaan. Pasti sangat menderita batin mereka. Sudah "proses" kejadiannya dipaksa, "proses" keluarnya terpaksa, dan belum tentu jadi anak yang dikehendaki setelah lahir
(malah untuk menghilangkan aib ada yang penginnya diaborsi saja).
Trauma berganda! Kasihan bangeeet...
Terus gimana juga perasaan teman2ku yang terpaksa dilahirkan karena buah "kecelakaan" ya?
Eh, jangan dikira yang bisa "kecelakaan" cuma pelajar en mahasiswa loh... Para bapak-ibu yang budiman pun bisa "kecelakaan" jika alat kontrasepsinya menyatakan diri:
mission failed! Ceprot!
Karena aku lahir atas penyatuan cintakasih, maka sudah sepantasnya aku juga memiliki cintakasih (Haaa' cuuuh...!)
Btw tentang cinta, terus terang... sebenarnya aku blank (Bo'ong banget yah?)
Kenapa sih ya harus ada cinta? Padahal kan sudah jelas, cinta itu selain bisa membahagiakan, juga bisa melukai sangat dalam. Tapi aneh bin ajaibnya, cinta juga yang bisa menyembuhkan luka karena cinta! (Masa sech?) Kalau gak percaya ya wuuudah...
Aku pernah membayangkan seandainya cinta diambil dari dunia oleh pemiliknya. Pasti tidak ada lagi yang akan terluka karena cinta. Tapi pasti juga dunia menjadi tidak terasa menyenangkan lagi ya? Orang2 pada bikin keturunan ga lewat perkawinan lagi, tapi mungkin bakalan lewat kloning semua. Nggak asyik banget deh pokoknya! Nggak ada lagi bunyi: Ceprot!
Kalau cinta diambil dari dunia oleh pemiliknya, ga ada lagi para pencipta lagu2 bernafas cinta. Nggak ada lagi penyair2 cinta nan agung dan penyair2 cinta yang ngegombal. Nggak ada lagi para blogger yang mencurahkan isi hatinya (Wuuuiiih!).
Benar juga kata orang, langkah pertama adalah yang paling sulit. Begitupun aku. Ini adalah tulisanku yang pertama di blog. Sulit (nggak pakai pitik). Tapi aku beranikan diri juga membuatnya. Pertama karena cinta memanggilku. Makanya bila cinta, harus bilang apa? Jawab saja! Kedua karena aku mendapat rantangan eh tantangan dari tulisan di surat kabar nasional dan menjawan tantangan: go blog-er! Goblog enggak sih aku? Ketiga karena aku ingin melahirkan kisah2ku... (hehehe... memangnya yg bisa ngelahirin cuman perempuan?). Kelima - loh, keempatnya mana? (suka2 gua dong! Yang nulis kan gua!) karena memang aku cinta dunia tulis-menulis. Tapi menjawab tantangan cinta pastilah tidak mudah. Kata orang, perlu pengorbanan. Kata
Pat Kay, siluman babi di Sun Go Kong itu loh,
"Begitulah cinta, deritanya tiada akhir." (Bener enggak, sih?). Mungkin bener juga... pastilah sakit rasanya ketika bundaku bergelut dengan maut hanya untuk memindahkan aku dari dalam rahimnya ke dunia liar. Jangan2 akupun mesti menderita karena kecintaanku pada dunia tulis-menulis ini. Aku mesti melahirkan ide2 yang terbenam di kedalaman batin ke dalam deretan 26 alfabet yang mesti kuatur sedemikian rupa sehingga bermakna
(Uuuh... cinta...).