Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Thursday, July 28, 2005

WHO CAN BE MY FRIEND?

If you a religious person, unreligious, atheist... of course you can be my friend! Your faith is your business, not mine.
If you a straight person, gay, lesbian, transvestite, transsexual, whatever your sexual orientation... don't worry, you always welcome to be my friend. Your sexual orientation is God gift. I suggest you say: Thanks God for your gift! Don't be ashamed with your sexual orientation!
If you an ebony person or ivory... you can be my friend too. Your colour is natural gift. I can't complain. Black or white (or brownish... yummy!) have uniqueness itself.

Do not judge another people only with our viewpoint! That's very unfair.

No matter what you are, who you are... my heart is open for you all!
I'm not a humanist or philantrophist. I'm only a human who believe in good will and friendship. Even though I'm catholic, I'm not a religious person. But I believe in God and His righteousness. I praise Him in my way.
Hey you... why don't we be like story book children? Better build a bridge up than wall. Fill our life with happiness, goodness, honesty, and friendship!

Throw away... far far way your hatred, misery, uselessness, and hypocrisy.

You can be my friend. So, can we make a friendship? What a pleasure!

Sunday, July 24, 2005

CINTA HANYA MEMBERI

Pernahkah kalian mendengar cerita The Giving Tree?
Udah? (Kalo udah jangan baca... lewatin aja!)
Belum? Nah, yang belum pernah... dengerin - eh, bacalah cerita aku. Boleh sambil ngebayangin aku sedang duduk bercerita kepada kalian.
Musik pembukaan: sol-mi-fa-re... sol-re-mi-do... Perhatian... perhatian (loh... kok jadi kayak di stasiun sih?).
Salah!
Musik pembukaan: ti-tu-tiiiii...boo-bee-bii-boooo... (kebayang musik film dracula enggak sih?).
Salah lagi!
Musik pembukaan: mi-fa-mi-do-re mi-fa-miii-do-reee... (ini sih Anak Gembala-nya Tasya... yo wis gak apa2 wis! Daripada nggak jadi cerita)
Begini nih ceritanya:
Ada seorang anak bersahabat dengan sebatang pohon yang besar dan buahnya banyak. Setiap hari anak itu bermain2 di sekitar pohon. Mengejar serangga, menangkap kupu2, melihat bunga rumput mekar, main ayunan di cabangnya, pokoknya permainan anak lah!
Menjelang siang, anak itu kelelahan.
Anak: Pohon, aku capek. Aku ingin istirahat. Bisakah kau beri tempat istirahat yang nyaman?
Pohon: Aku tidak punya tempat tidur. Tapi akan kuberikan daun2ku untuk menaungimu. Kamu bisa berbaring di bawah rimbunnya daunku. Semoga kamu akan merasa bahagia karenanya.
Maka tidurlah anak itu di bawah pohon. Daun2 pohon melindunginya dari panas matahari dan meniupkan angin sepoi2 ke wajah anak itu. Pohon merasa gembira bisa berguna bagi anak itu.
Ketika bangun, anak itu merasa lapar.
Anak: Aku lapar. Bisakah kau memberiku buah?
Pohon: Tentu. Petiklah dan makanlah. Dan semoga kamu akan bahagia memakannya.
Maka anak itu memetik beberapa buah yang matang dan memakannya.
Pohon merasa bahagia karena bisa membahagiakan anak itu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Lama anak kecil itu tidak bermain lagi di sekitar pohon. Pohon itu sangat rindu pada si anak. Dengan kesabaran dia menanti dengan hati sedih.
Suatu hari anak itu lewat di dekat pohon. Kini dia sudah dewasa. Sang pohon menggoyangkan cabang2nya dengan gembira.
Pohon: Hai! Sobat, kemarilah! Mari bermain bersamaku! Berayun-ayunlah di cabangku seperti dulu.
Anak: Aduh... aku sangat sibuk. Aku capek dan nggak mau manjat2 lagi!
Pohon menjadi sedih.
Anak: Aku sudah bukan anak2 lagi. Aku perlu rumah untuk melindungi aku dari dingin. Aku akan mencari isteri dan segera menikah. Aku ingin punya anak. Aku ingin tinggal di rumah yang hangat bersama keluargaku. Dapatkah kamu memberiku rumah?
Pohon: Aku tidak punya rumah untuk diberikan kepadamu. Rumahku adalah hutan ini. Tetapi aku bisa memberikan cabang2ku untukmu. Kamu bisa membuatnya menjadi rumah. Dan kamu akan bahagia.
Maka anak yang sudah tumbuh dewasa itu memotong cabang2 pohon besar dan membangun rumah. Pohon merasa senang karena dia bisa membahagiakan anak itu.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Lama anak itu tidak datang. Namun demikian si pohon tetap setia menanti kendati dengan sedih hati. Dia merindukan tawa riang anak yang bermain2 di sekelilingnya.
Suatu hari lewatlah anak yang ditunggu2. Pohon menggoyangkan batangnya dengan gembira.
Pohon: Kemarilah! Mari bermain bersamaku! Aku rindu padamu.
Anak: Maafkan aku, Sobat. Tetapi aku perlu kerja untuk mencukupi keperluan rumah tanggaku. Aku akan berlayar jauh. Dapatkah kau memberiku perahu?
Pohon: Aku tidak punya perahu. Aku hanya punya batang. Tebanglah dan pakailah untuk membuat perahu yang kauinginkan. Dan kamu akan bahagia.
Maka ditebanglah batang pohon besar itu. Yang tersisa hanyalah tunggul dan akarnya. Si anak membuat perahu dan dia berlayar meninggalkan kampung halamannya. Bekerja di negeri seberang.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Anak yang tumbuh dewasa itu kini menjadi tua. Menjadi seorang kakek. Isterinya sudah lama meninggal, anak2nya sudah berkeluarga. Maka dia kembali ke kampung halamannya.
Sementara si pohon masih setia menunggu, kendati kini tinggal tunggulnya saja.
Tatkala melihat orang yang dicintainya lewat, pohon itu menggoyangkan tunggulnya.
Pohon: Kemarilah! Mari bermain bersamaku! Aku rindu padamu.
Anak: Aku sudah tua. Tidak kuat lagi bermain. Aku ingin istirahat. Dapatkah kau memberiku tempat duduk?
Pohon: Kalau begitu, duduklah di tunggulku. Dan kamu akan bahagia.
Maka duduklah dia di tunggul pohon. Pohon merasa bahagia karena telah memberikan cintanya, dirinya utuh kepada si anak. Pohon bahagia karena mencintai.
Sementara si anak sambil duduk di tunggul merenung, betapa pohon itu telah memberi diri sepenuh kepadanya. Daun, buah, cabang, batang, dan kini walau hanya tunggul, diberikannya juga. Laki2 itu merasa terharu atas kebaikan pohon itu. Pohon itu tak minta banyak, hanya minta persahabatan yang tulus. Sebaliknya dia telah menerima banyak ketulusan dari pohon. Pohon itu memberi, memberi, dan memberi terus kepadanya.
Musik penutup: Kalian bayangkan Forever Love-nya Gary Barlow aja deh! Atau You Raise Me Up-nya Josh Groban.

Wheeew... gimana? Dah selesai ceritanya.
Bisa enggak ya kita bersahabat dengan tulus? Bisa enggak kita mencintai dengan selalu memberi? Kata orang bijak, cinta itu hanya memberi, tidak pernah meminta. Rasanya kata2 itu sungguh benar. Cinta hanya memberi dan memberi. Indahnya!

Thursday, July 21, 2005

BOKU

Hajimemashite! Watashi wa Pippo to môshimasu. Yoroshiku, onegaishimasu. Watashi wa chônan desu. Otôto wa futari ga iru. LIJ de Nihongo o benkyôshimasita. Kotoshi ASPAC de Nihongo o benkyôsuru. Inos-san wa korekara watashi no sensei desu. Nihongo wa omoshiroi to omou. Bunpô to dôshi wa chotto muzukashi desu. Ikura muzukashikute mo, Nihongo wa omoshiroi to omoimasu.
Takusan o-kane ga attara, Nihon e iku. Nihon e kuru mae ni, Nihongo o benkyôsuru. Nihon ni tsuite takusan kirei na tokoro ga aru to omou.
Nihon e iku toki, Fujiyama ni nobottari, Kyôto de sanposhitari shimasu. Kyôto wa Tôkyô yori furui na machi desu. Takusan kireina o-tera wa Kyôto ga aru to omoimasu.
Watashi wa bunka ga suki desu. Bunka ga benkyôshittara, takusan tomodachi ni naru. Omoshiroi ne? Watashi no shumi wa shashin o toru koto desu. Watashi wa chichi ni kamera o oshiete moraimashita. Sono kamera wa benri de, takakunai desu yo.
Watashi wa VCD o miru ga suki desu. Sengetsu The Last Samurai o mita. Ii yo! Tom Cruise wa ichiban no haiyû ne? Kare wa Nihon-jin no kokoro ga aru to omoimasu.
Maiasa rokuji ni okite, uchi ni sôji shite, shawâ o shite, asa gohan o tabete, shôsetsu o kaku. Ku-ji kara juni-ji made shôsetsu o kakimasu. Sorekara, hiru gohan o tabete, shinbun o yomimasu. Ni-ji kara san-ji made yasumimasu.
Ee to... ima shitsurei shimasu!

MAKAN GA MAKAN ASAL MAKAN!

Kalian tahu kan kenapa makhluk hidup mesti makan?
Betul! Demi menjaga kelangsungan hidupnya. Soalnya dengan makan, makhluk hidup bisa melangsungkan aktivitas hidupnya, termasuk mewariskan keturunan (uhuy!)
So, mana sih yang bener? Makan untuk hidup atau hidup untuk makan?
Yaaa sama2 waelah... tergantung siapa yang ditanya. Kalau nanyanya ke orang yang sok filsafat, jawabnya ya: makan untuk hidup. Tapi kalau yang ditanya orang yang demen kerja keras, jawabnya ya: hidup untuk (cari) makan... kekekekeke...

Bicara soal makan, ada pandangan lain lagi. Orang Jawa punya pandangan: mangan ora mangan waton kumpul. Terjemahan bahasa Jepangnya: makan tidak makan asal kumpul. Ngerti kan? Ternyata kalian pinter2 bahasa Jepangnya ya?
Jadi pandangan nyang itu ngeliatnya dari sisi kekariban. Biarpun ga ada yang cukup dimakan, selama masih bisa kumpul ya alhamdulillah...
Pandangan itu sekarang dapet tandingan: kumpul gak kumpul sing penting mangan. Kumpul enggak kumpul yang penting makan! Kelihatannya egois banget ya? Tapi memang itu realita zaman sekarang. Kekariban enggak penting lagi. Pokoknya nggede'in perut sendiri dulu. Iya kan? Apalagi di zaman serba susah gini. BBM susah, sekolah susah, nyari kerja susah, sakit susah, mati pun susah, bener2 bikin orang susah semakin susah. Susah ya?
Sekali waktu aku dan anak2 Kelompok Studi Biologi Atma Jaya ngadain acara latsar, pelatihan dasar di Wanagama. Hutan yang dikelola oleh UGM, lokasinya di Gunungkidul (di tempat itu ada pohon cendananya juga). Lumayan cocok juga untuk latsar, biarpun masih jauh dari ideal. Konturnya yang berbukit-lembah, hutannya yang saat kemarau menggugurkan daun, tanahnya yang rada berbatu, bener2 menyenangkan. Hewan buruan macam rusa jelas enggak ada. Paling banter biawak dan ular.
Apakah kami makan biawak dan ular?
Enggak dong! Nangkepnya aja susah!
Kami bawa dua boks Indomie dan 5 kg beras. Itulah makanan kami selama latsar. Tapi selama latsar kami juga dapet ubi jalar dan singkong yang tumbuh di sekitar hutan. Lumayan buat variasi menu.

Ubi jalar dan singkong itu kami pendam di dalam tanah, lantas di atasnya kami membuat api unggun. Esok harinya begitu api unggun padam, kami gali tanah dan sarapan dengan ubi jalar dan singkong semalam. Hmmm... empuk, harum, hangat, dan ueeenak rasanya! Gak percaya? Buktikan sendiri!
Entah dari mana datangnya ilham, tiba2 timbul keinginanku untuk makan daun2an. Berbekal pengetahuan jenis daun mana yang aman dimakan dan tidak, akupun melenggang sepanjang jalan. Kalau daun itu tidak bergetah, pasti aman. Begitu pikirku. Makan gak makan asal makan! Sakit atau enggak kan takdir ilahi.
Aku tidak ingat lagi daun macam apa saja yang sudah kukunyah dan masuk ke dalam ventrikulus. Tapi malamnya, perutku terasa kembung tapi melilit. Mau minta tolong, malu (huuu... dasar kegedean gengsi!). Maka kutahan saja rasa perih yang menjerat perut. Kali aja karena enggak biasa makan daun mentah ya? (Yaaa... gak bisa ngaku2 sebagai orang Sunda nih). Aku cemas kalau2 kutub selatanku enggak bisa nahan. Bisa2 jebol angin yang berputar2 di dalam perut. Kali aja kalau aku makan daun cendana, kentutku bisa wangi ya?

Rupanya gelagatku yang kesakitan terlihat oleh pembina.
"Kenapa? Sakit perut?" tanyanya.
"Iya," jawabku pendek.
"Nih, minum ini saja," katanya sambil menyodorkan segelas kopi pait yang didalamnya ada arang dari api unggun. Masih berasap pula! Namanya KOPI JOSSS... karena waktu bara arang itu diserap oleh air kopi meninggalkan bunyi, "Jooosss..."
Ternyata obat itu manjur. Rasa perih di perut berkurang. Maka aku mulai berani menyuap mi rebus yang sebenarnya sudah melambai2 menarik selera makanku sejak tadi. Mi rebus itu sudah dingin dan ngembang. Tapi apa boleh buat. Daripada gak makan malam.
Dari kejadian itu aku belajar, bahwa enggak boleh asal makan. Prinsip makan ga makan asal makan ternyata salah besar! Akibat asal makan ya sakit perut! Dan sakit perut gak ada kaitannya ama takdir ilahi. Sakit perut ya sakit perut aja. Disebabkan diri sendiri, bukan takdir dari Tuhan. (Maaf ya, Boss Besar, aku sudah "menuduh" dan membawa2 nama-Mu sebagai penyebab sakit perutku).

Tuesday, July 19, 2005

FROM CLERING WITH SHOCK

Tahun 1996 aku masih tergabung dalam Kelompok Studi Biologi (KSB) Universitas Atma Jaya. Anggota kelompok itu di antaranya: Giri, Sipri, Dian, Elly, Tutik, OAL Delia, Dewi Perangin-angin, Widianta br Kemit, Diah, Naris, Elga, Kian Ping, Mangiring Hutagalung, Lisa, Ruth DI, Luhut, Bongriansen Saragih, Parlindungan, Tiur, Eva, Agung, Oktaf, Niken, Sri, Jojo, Stefanus, Deasy, Rara, Henry, Endru, dan beberapa lagi yang aku gak ingat namanya (sorry habisnya kalian gak ngetop sih!).
Nah, sekali peristiwa kami dapet sponsor dari BirdLife International Indonesia Programme untuk meneliti daerah Clering, apakah bisa dikategorikan sebagai kawasan IBA atau enggak. BirdLife International tu markas besarnya di negerinya Queen Elizabeth II sono. Trus IBA tu Important Bird Area. Program IBA tujuannya untuk mengidentifikasi semua daerah di dunia yang penting bagi burung (tuh kan... burung aja perlu tempat yang dikhususkan!).
Di Eropa, direktori IBA sudah dibuat tahun 1987 dan merupakan direktori IBA yang pertama di dunia. Nah, di Indonesia diharapkan tahun 2000 yang lalu penyusunan direktori IBA sudah kelar. Di Jawa, Madura, dan Bali (1996) ada 71 daerah yang jadi kandidat IBA.
Salah satu tempatnya adalah Clering itu. Clering merupakan cagaralam yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Konturnya berupa bukit di tepi pantai. Asyik banget! Dari puncak bukit kami bisa melihat Laut Jawa dengan ombaknya yang tenang.

Begini ceritanya...
Anggota KSB yang berangkat ke Clering adalah Giri, Sipri, Luhut, Ruth DI, Elly, Dian, Bongri, Tutik, Naris, Delia, Diah, Dewi Perangin-angin, Widianta br Kemit dan aku. Kami tahu, saat itu hubungan antara Sipri dan Naris lagi mesra-mesranya (ihik-ihik...). Ke mana-mana mereka berdua mulu (kecuali waktu mandi bo! Emangya mau dikeroyok orang sekampung?). Selama di Clering kami punya basecamp di rumah pak kuwu, istilah untuk kepala dusun sana. Sebelum masuk Clering, kami lebih dulu minta ijin pada kepala desa yang kebetulan seorang ibu, masih muda dan cantik lageee... (uhuy!). Terus kami ke Pak Budi, kepala KPH di sana. KPH apaan ya? Aku cuma ingat PH-nya, pemangku hutan.
Perjalanan dari Yogya ke Clering dengan angkutan umum ditempuh selama 12 jam. Gile! Habis bis yang kami tumpangi kelas ekonomi yang mesti menaikturunkan penumpang di jalan... Selain itu kami maklum juga angkutan pedesaan di Clering susah! Nah, selama di perjalanan itu terpaksa kami menahan keinginan untuk buang air besar. Kalau buang air kecil mah rada2 gampang dan enggak makan waktu lama. Tinggal cari semak2 aja... gyahahaha...
Mungkin karena menahan isi perut lama2 itu, maka begitu sampai di basecamp, Giri langsung mencari sungai (hey, di Clering gak ada kamar mandi lho!). Jongkoklah dia di bebatuan dengan angkuhnya.
BLUP! BLUP! BLUP!
Buseeet! Anjrot! Tiga potong - maaf - tinja berukuran panjang-besar dibongkarnya di sungai. Untunglah aliran airnya deras... Bahan polutan itu terbawa air dan melewati barisan anak2 cewek yang sedang berjalan ke rumah pak kuwu. Kontan terdengar semprotan sengak dari Dian, cewek paling mungil tapi paling galak di kelompok kami. Entah apakah dia tahu itu amunisi Giri atau tidak.
Malamnya kami dijamu oleh pak kuwu dengan makanan kecil. Namanya keripik gadung, dari umbi tumbuhan sejenis talas. Rasanya renyah. Tapi untuk mengolahnya menjadi keripik gadung perlu keahlian tersendiri. Apa pasal? Umbi gadung itu jika salah olah bisa bikin orang mêndêm alias mabuk.
Lantaran keripik gadungnya enak, berikut nafsu makan kami sangat besar, maka dengan segera keripik gadung berpindah tempat dari piring2 ke dalam perut kami. Apalagi dimakan bersama makanan andalan kami di alam bebas: Indomie. Kriuk-kriuk-kriuuuk! Nggak peduli cowok atau cewek, selera makan kami besar! Maklum orang lapangan.
Nah, malamnya kami melepas lelah sesudah seharian berdesak2an di angkutan umum bagai ikan pindang. Pak kuwu menyalakan radio transistornya yang menyiarkan wayang kulit. Aduh enaknyaaa... berbaring sambil mendengarkan siaran radio. Rupanya bunyi gamelan itu kuasa membuat kelopak mata kami menutup.
BROOOT! BROOOT!
Anjing! Kutu kupret!
Lagi enak2nya mau masuk ke alam mimpi, tiba2 ada yang kentut. Keras pula! Gas perut itu rupanya sebagai efek samping kerakusan kami menyikat keripik gadung. Mungkin karena jengkel mendapat serangan mendadak, lainnya membalas dengan tembakan yang tak kalah nyaring. Akupun tak mau ketinggalan. (Masa ditembak diam aja... enggak la yaw! Baleees!!!). Jadilah malam pertama di Clering kami isi dengan perang kentut! Dasar orang2 gila! Kejadiannya begini terus tiap malam selama seminggu, namanya bukan From Clering With Love tapi From Clering With Shock!

Monday, July 18, 2005

THE DA VINCI CODE

Kali ni sy ngambil SP. Biar cpt slesai. Guru, udh bc kode Da Vinci blm?

Begitu bunyi sms yang kuterima pk. 20:54:11 pada Sabtu, 16 Juli 2005 yang lalu. Sms dikirimkan oleh saudaraku yang pernah sama2 mengecap masa pranovisiat dan novisiat.

The Da Vinci Code memang buku fiksi yang sangat menarik. Buku itu menarik karena isinya dianggap menggoncang iman yang telah bertahan 2000 tahun. Dan menjadi lebih menarik lagi karena pada saat diluncurkan, bersamaan dengan kejadian besar: jatuh sakit dan wafatnya Sri Paus Johanes Paulus II.

Dan Brown memang patut diacungi jempol. Kenakalan imajinasinya yang didukung dengan data-data - yang menurut dia - otentik, sanggup membuat beberapa orang kardinal di Italia melarang umat membaca buku fiksi tersebut. It's very very ridiculous! Hare gene masih ada larangan baca buku?!?!
Kalau larangan itu muncul pada zaman abad kegelapan, di mana hirarki Gereja sangat kuat mencengkeramkan kuku dan taringnya, aku bisa mengerti. Tapi di zaman sekarang? Di mana semua informasi dapat diakses dengan mudah... larangan semacam itu hanya menjadi lelucon. Zaman sudah berubah!

Boleh saja dibilang kaum klerus memiliki otoritas tertinggi dalam hal rohani. Tetapi orang zaman ini bukan lagi seperti kerbau dicocok hidung, yang dengan mudah diarahkan oleh para klerus. Bagi orang zaman sekarang, kebenaran tidak mutlak berada di tangan kaum klerus. Bukan mereka satu2nya pemegang otoritas kebenaran. Itu adalah ciri cara pikir orang zaman ini. Ecclesia semper reformanda! Itu yang mesti dilakukan jika Gereja tetap ingin mendapat tempat di hati orang. Kalau Gereja hanya berfungsi sebagai freezer dalam hal ajaran, ya isinya paling2 cuma daging potong alias bangkai. Tidak ada kesegaran!

Hal lain yang tak kalah menggelikan adalah larangan membaca The Da Vinci Code itu menunjukkan para kardinal itu masih meng-underestimate daya nalar umat. Mereka menganggap umat tidak mampu membedakan mana fiksi, mana fakta. Heran aku... gaya prakonsili kok ya masih dilestarikan! Apakah mereka takut kalau iman umat goyah?
Nyatanya sekian hari, sekian minggu setelah buku itu terbit, gereja2 masih ramai dikunjungi umat. Pastor2 masih dikunjungi umat. Uskup apalagi... Jadi kupikir kekhawatiran mereka itu mengada2. Apa mereka lupa, bahwa iman Kristen sudah teruji 2000 tahun lamanya? Coba, selama itu sudah berapa banyak bid'ah, aliran sesat yang merongrong iman Kristen? Tak terbilang! Nyatanya iman Kristen tetap tegak!

Boleh jadi orang beragama Kristen di Eropa menyusut jumlahnya. Tapi bukankah mereka yang beriman Kristen, dalam artian menjalankan ajaran Kristus, jumlahnya bertambah? Memang belum tentu mereka beragama Kristen. Tapi kenyataannya mereka menjalankan ajaran Kristus, malah tak jarang pelaksanaannya lebih baik daripada yang beragama Kristen. Bukankah kita patut bergembira?

Para klerus, biarkanlah umat memilih apa yang mereka maui. Apakah yang dilakukan itu dosa atau bukan, itu toh tanggung jawab pribadi. Zaman ini bukan lagi zaman melarang2 umat membaca buku kontroversial. Bukan zamannya lagi melarang2 umat menggunakan penalaran sendiri. Tugas kalian sebagai gembala memang untuk menyelamatkan domba yang sesat. Namun kalian tidak bisa melarang jika domba ingin pergi ke mana mereka suka. Syukur kalau domba mau mendengarkan dan mau diselamatkan. Jika tidak, biarkan! Apakah kalian lupa dengan Yehezkiel 3:16-21?

Saturday, July 16, 2005

THE UNLUCKY DAY

Pernah enggak kalian ngerasain satu hari yang betul2 bad, baD, bAD, BAD day? Satu hari penuh dibuntutin kesialan? (Pernah kali ya?)

Kejadiannya tuh waktu aku masih kuliah di Jogja. Emang Jogja paling enak buat kuliah en... ehm... titik2 (isi sendiri ya? Terserah mau loe isi apa).

Hari itu aku musti praktikum Kimia Dasar (tau sendiri kan bagaimana asyiknya praktikum kimia?). Seperti biasa, sebelum praktikum diadakan pretest untuk mengetahui penguasaan materi yang akan dipraktikumkan. Semalam2an aku pantengin buku diktat. Lumayan juga. Musti ngerti gimana reaksi X berlangsung, kenapa bisa begitu, macem2 lah! Beruntung aku enggak menemui kesusahan dengan kimia (he-he-he... sombong ni ye? Memang!). Yang kasihan tu temanku. Sampai mukanya kayak rumus kimia, masih enggak ngêh juga.

Pretest? Huuu... lewaaat!

Nah, waktu praktikum itulah kesialan mulai membayang. Salah satu senyawa yang kami gunakan adalah NaOH, natrium hidroksida gitu. Termasuk basa kuat dan uapnya enggak bagus buat kesehatan. Aku sendiri membuktikan memang NaOH enggak bagus buat kesehatan.

Tiba saatnya kelompokku melangsungkan pernikahan - eh percobaan. NaOH mesti kami masukkan ke dalam tabung reaksi. Berhubung NaOH itu bukan cairan deterjen, maka kami memerlukan pipet ukur untuk mengambilnya. Di ujung pipet ukur itu ada semacam alat untuk mengisap.

Sial! Kelompok kami menerima alat pengisap yang enggak beres alias perlu diafkir. Karena waktu terus berjalan dan aku enggak sabaran, maka nekat aja aku mengisap ujung pipet ukur dengan mulut.

SYUUUT!
Cairan bening itu merangkak di sepanjang dinding pipet. Seharusnya aku segera berhenti nyedot begitu NaOH sampai di angka 5 ml. Tapi mungkin saking semangatnya, aku kelupaan.

NYAAAS!
Rasa panas menyengat lidahku. BUSEEET! ANJROT! Litani puji2an menyembur spontan.
Pipet ukur kucampakkan dan aku bergegas lari ke kran air. Lidahku kujulur2kan di bawah aliran air (mirip si Gukguk kehausan kali ye?).

Teman2ku bukannya ikut prihatin melihat bencana yang kualami, mereka malah ngakak lebar banget. ANJROT! Sejuta topan badai! (lho.. kok umpatannya enggak serem sih?).
Asisten praktikum cuma bisa geleng2 kepala (bukan karena habis nelen XTC lho!). Mereka enggak habis pikir, bisa2nya ada praktikan gebleg kayak aku. Dah tau yang dipakai praktikum bukan ASI, eh... masih nyedot pakai mulut!

Untunglah cairan sialan itu belum sempat tertelan. Tapi lumayan juga buat manasin lidah (emangnya mau bikin menu lidah bakar?). Lidahku selamat. Enggak ada luka permanen. Selesai praktikum rasa panas sudah jauh berkurang karena aku mendapat segelas susu dari asisten praktikum (Asyiiik! Sering2 aja ngasih susunya, kan aku sedang dalam masa pertumbuhan...)

Selesai praktikum aku berniat ke Gramed. Cari buku sekalian cuci mata. Tapi begitu sampai di parkiran sepeda motor...
Haduuuuh... ban sepeda motorku kempis. Mau nyari tukang angin nanggung. Soalnya sejam lagi aku masuk kuliah. Maka terpaksa aku naik Kopata. Itu tuh... bis kotanya Jogja yang warnanya oranye. Ada juga yang enggak oranye... abu-abu, tapi namanya bukan Kopata. Aspada. Entah apa kepanjangannya (aku enggak tertarik buat mencari tau).

Kopata yang kunaiki penuhnya enggak kepalang. Terpaksa aku jadi atlet lempar lembing (bergelantungan di dalam bis kota gitu loh!)

Setibanya di Gramed, tempat yang pertama kutuju adalah toilet. Mungkin karena tadi digelontor susu, adik kecilku jadi kepengin ke belakang. Ya wudaaah... maka akupun piss of...

CUUUR...

Lega rasanya sesudah nahan kencing (ditengah impit2an penumpang bis lagi!).
Tapi... lho... retsluitingku jadi enggak mau diajak baikan! Dia menjebolkan diri dengan sukses. Yaaah... Apa aku musti keliling dengan sangkar burung ngejeblak? Kasihan tuh nanti cewek2, bisa2 pada keserang penyakit panas-dingin!

Mau ngeluarin ujung kemeja... enggak nutup juga, soalnya model kemeja yang kupakai bawahannya pendek. Ujungnya persis di bawah ikat pinggang. Maka acara beli buku terpaksa batal. Enggak enak kan jalan2 dalam keadaan begitu. Bukannya enggak pede dengan asset pribadi. Tapi kan itu ga bisa diobral sembarangan (memangnya kayak asset negara yang diobral ke mana2?) Salah2 malah nanti ditangkap polisi dan dikenai pasal penyebab gangguan ketertiban umum... huehehehe...kekekekek...

Sialan, si adek kecil ini... mau buang air kecil aja musti ke Gramed!

Dari toko buku itu aku langsung kembali ke kost. Ganti celana gitu. Terus ke kampus lagi buat kuliah (hehehe... rajin ni ye?)

Kuliahnya Biologi Umum. Dosennya Pak Situmorang. Dia tu dosen dari Biologi UGM yang ngajar entomologi.
Aku duduk paling depan (soalnya deretan belakang udah penuh!). Di sebelahku ada Gembul, Ari, dan satunya lagi... aduh gawat, aku lupa namanya.


Di tengah2 kuliah itu kami berhaha-hihi. Macam2lah yang kami bicarakan. Sebenarnya kami tau juga tingkah kami diperhatikan oleh Pak Morang. Tapi entah kenapa kami nekat aja ngobrol, ketawa-ketiwi.

"PLETOK!"
Secuil kapur tulis mendarat di jidat Gembul.
Serentak tanpa di komando kami membisu.


"Kalian! Sejak tadi ngomong sendiri! Sana KELUAR!" Suara Pak Morang menggeledek.

Di bawah pandangan teman2 seruangan kami berjalan pelan2 keluar. Enggak tau deh, apa warna muka kami saat itu. Mau merah, biru, hijau... terserah deh!

Sungguh hari sial!

HELLO MY FRIEND

Hello my friend, kimi ni koishita natsu ga atta ne
mijikakute ki magura na natsu datta
Destiny kimi wa tokku ni shitte ita yo ne
modorenai yasuragi mo aru koto o aaah...
kanashikute, kanashikute kaeri michi sagashita
mou nido to aenakutemo tomodachi to yobasete

Hello my friend, kotoshi mo tatami dashita sutoa
taifu ga yuku koro wa suzushikunaru
Yesterday kimi ni koishita natsu itami o
dakishimeru kono kisetsu hashiru tabi aaah...

Sabishikute, sabishikute kimi no koto omou yo
hanarete mo mune no oku no tomodachi de isasete
boku ga iki isogu toki ni wa, sotto tashinamete kure yo

Kanashikute, kanashikute kimi no na o yonde mo
meguri kunu ano natsu no hi kimi o nakushitekara
kanashikute, kanashikute kimi no koto omou yo
mou nido to aenakutemo tomodachi to yobasete...

Friday, July 15, 2005

CINTA, JEPANG, DAN AKU

Bayangkan jika manusia enggak punya kegemaran khusus alias hobi... Hidupnya pasti garing abis! Enggak ada seninya!

Orang yang taunya cuma kerja, kerja, dan kerja... tidak punya hobi yang ditekuni... enggak kebayang gimana nanti setelah dia pensiun. Stress berat kali ya? Habisnya enggak tau mau ngelakuin apa. Mending kalau gak ngerepotin orang lain.

Lain kalau punya hobi, nyanyi misalnya, gak kerja masih bisa nyanyi2. Malah siapa tau kalau suaranya bagus bisa masuk dapur restoran - eh, rekaman. Datengin duit! Asyik begete kan? Kalaupun enggak punya duit, masih bisa menghibur diri dengan menyanyi. Idem dito buat yang punya hobi lainnya. Ngelukis, motret, miara burung, etc. Yang hobi ngelukis lebih punya waktu luang dibanding waktu kerja buat nyalurin libido ngelukisnya. Yang senang motret bisa ceprat-cepret, boleh pakai kamera digital terkini, boleh juga pakai kamera jaman kuda gigit besi yang beratnya setengah mampus!

Tapi kalau enggak punya hobi, habis kerja cuma ngandalin uang pensi. Mending kalau gaya hidupnya gak boros. Mau cari tambahan dari mana? Nyabet duit proyek dah gak punya pengaruh lagi di masyarakat. Mau kerja lagi, umur dan pikiran dah gak gape lagi. Kasihan banget!
Makanya aku peringatin buat kalian yang masih kerja... galilah apa kegemaran kalian! Jangan ampe nyesel belakangan (emang sih... yang namanya penyesalan pasti datangnya belakangan). Korek2 apa yang jadi bakat kalian. Diperdalam, ditekuni. Insa'aloh ngedatengin rejeki!
Nah, hobi pastinya memerlukan cinta kan? Kalau enggak mencintai hobi, ya percuma. Lama2 talenta itu ngilang nggak jelas ke mana juntrungannya.

Aku kebetulan suka ama yang namanya bahasa dan budaya.
Belajar bahasa tuh ternyata asyik banget! Bisa menambah cakrawala. Kata orang, kunci untuk mengenal budaya adalah bahasa. Bahasa dan budaya adalah dua sisi dalam satu koin.
Pertama dulu aku lesnya bahasa Inggris di ELTI (bukan promosi lho!). Tapi kok rasanya enggak ada tantangan gitu... habisnya bahasa Inggris udah didapet juga di sekolah. Makanya aku cari alternatif bahasa lain.

Penginnya belajar Mandarin. Tapi tau sendiri kan... situasi Indonesia di bawah orde baru waktu itu... yang bau2 China masih verboden. Makanya yang namanya kursus Mandarin terang2an gak ada. Kalau yang privat mungkin banyak.

Maka aku putuskan ngambil aja bahasa Jepang. Apalagi waktu itu lagi rame2nya film Jepang menyerbu tivi Indonesia. Tokyo Love Story tiap sore dipantengin berjuta pasang mata yang nunggu di depan layar kaca.

Aku kursus bahasa Jepang di LIJ - Lembaga Indonesia Jepang di Sagan, Yogyakarta. Watashi no sensei wa Fatchan-san deshita. Fatchan-san wa kôshi de, UGM de naraimasu. Temen2 kursusku macam2 latar belakangnya. Ada yang anak kuliahan, kerja kantoran, tapi ada juga ibu rumah tangga.

Belajar bahasa Jepang ternyata asyik banget. Enggak susah2 amat ucapannya. Lain dengan Inggris yang tulisan ama ucapannya beda. Apalagi Prancis... yang ucapannya bindeng kaya orang kena selesma menahun.

Budaya Jepang menurutku menarik juga. Penuh dengan harmoni dan kehalusan perasaan. Bisa lembut seperti sutera, tapi bisa juga galak melebihi macan sakit gigi. Hebatnya lagi dalam budaya mereka enggak ada itu yang namanya konsep DOSA. Enggak ada! Yang ada adalah rasa malu. Lain banget ama bangsa kita... konsep dosanya kental lebih kental dari ingus, tapi nggak punya rasa malu. Buktinya... ngelakuin dosa enggak malu. Korupsi sekian triliun santai aja tuh! Sementara yang lain pada busung lapar, kesulitan dapat kerja, kesulitan biaya sekolah... Apa nggak ngeri tuh? Mau di kemanain generasi mendatang bangsa ini?

Seluk-beluk kehidupan bangsa Jepang sungguh mencengangkan. Bayangkan aja... dulu jaman serba nggak enak, rata2 tinggi badan mereka 1,5 m. Sekarang ini nyari orang Jepang yang 1,8 m enggak susah. Soal transportasi lagi. Bangsa Indonesia ini terkenal ancur dalam disiplin lalu-lintas. Slonang-slonong di jalan seenak pusernya sendiri. Lampu merah aja dilanggar, apalagi cuman marka jalan. Kalau ketangkep polisi kan mudah, tinggal kasih go-ban atau cepek-ceng... BERES! Di Jepang... boro2 nyogok keisatsu alias polisi. Ngebunyiin klakson asal2an aja bisa didenda dan dianggap orang tidak beradab!

Kereta api apalagi... udah nggak pernah tepat jadwal... acaranya kecelakaan mulu. Yang tabrakan lah, nabrak lah, rel anjlog lah, terguling lah... Sedih banget kalau mikirin moda transportasi massal yang namanya KA di negeri ini. Sementara Jepang yang negaranya pernah ancur2an di PD II, sistem perkeretaapiannya paling canggih sedunia. Kecuali ada gempa bumi, enggak pernah KA terlambat semenit pun dalam 30 tahun. Gila! Padahal KA listrik mereka "cuma" kerja di voltase 110. Lha kita yang 220 malah kedodoran kagak habis2nya. Itulah... gara2 banyak yang dikorupsi di tiap instansi!

Bangsa Jepang juga terkenal dengan budaya antri. Berjam2 dalam antrian panjang enggak masalah buat mereka. Inos-sensei, guru bahasa Jepangku di LPBAT ASPAC Semarang, pernah cerita pengalamannya selama di Jepang. Ada temannya dari Indonesia yang nyerobot antrian untuk beli tiket. Orang-orang dalam antrian itu enggak komentar apa2, tapi pandangan mata mereka jelas mengatakan, "Dasar orang nggak berbudaya! Main serobot aja!" Nah lo... Malu2in bangsa Indonesia aja! Bebek aja bisa antri... masak orang lebih gebleg dibanding bebek!

Hal lain yang sangat mengejutkan... mereka suka mandi bersama usai kerja. Berendam telanjang di ofuro atau di onsen (sumber air panas) beramai2 bukanlah hal yang memalukan buat mereka. Enggak ada pikiran kotor! Mandi just mandi. Pikiran enggak dibawa ke mana2 yang serem2 bin kotor. Sementara bangsa ini... lihat "pabrik susu" mencuat dikit di kontes Miss Universe aja sudah teriak2 enggak karuan. Ya oloooh... Katanya yang enggak bermoral-lah... bukan budaya Indonesia-lah... bukan budaya Timur-lah... enggak sesuai ajaran agama-lah... Prek! Entah kenapa bangsa ini tiba2 menjadi moralis kampiun. MUNAFIK besar!
Aku berpendapat begitu bukannya demen liat yang gituan. Cuman mbok ya lebih baik mikirin anak2 yang kesulitan dapet pendidikan, yang kena wabah penyakit, yang busung lapar en gizi buruk. Daripada... sekian banyak orang ngegerudug cuma buat demo menentang Miss Universe. Ngapain juga coba? Menegakkan moral bukan gitu caranya! Lebih baik gotong-royong bantuin yang kekurangan, kasih santunan atau beasiswa. Lha ini... enggak! Gerombolan gerudugan sana-sini bawa pentungan pula. Yeee... Kalau anak2 dapet pendidikan yang baik, dengan sendirinya moral mereka akan terbentuk menjadi baik. Kalau anak zaman sekarang dibilang moralnya bejat, pasti ada yang salah dengan dunia pendidikan kita. Sekolah kita bukan mendidik, tapi cuma sebagai alat transfer dan anak diposisikan sebagai objek an sich! Di samping jadi business as usual... Sedih deh mikirin pendidikan negeri ini... hiks...

Di Bali aja yang masih hidup di pedesaan, gadis kelihatan - maaf - payudaranya enggak masalah. Padahal orang Bali pedalaman kurang kolot apa Hindunya. Menurutku sih orang mau bugil atau pakai baju rangkap sepuluh... terserah aja. Yang kudu dijaga itu pikiran! Mau baju nutup ujung rambut sampai ujung kuku kaki, kalau pikiran kotor ya tetap porno aja yang ada di otaknya! Survei membuktikan angka perkosaan di Jepang jauh di bawah Indonesia! Padahal mereka itu bisa dibilang acuh gak acuh sama agama. Lha kita? Yang saban hari menangkupkan tangan, sujud, berdoa dengan bermacam cara... malah dalam menanggapi soal gituan amburadul enggak karuan. Main hajar aja sukanya! Ini negara hukum... bukan negara nenekmu! Yang disalahkan gara2 keseringan nonton film panas (iya, nontonnya sambil duduk di atas kompor menyala sih!).

Whew... kenapa aku mengeluh panjang2 ya... Bukannya aku enggak suka jadi bangsa Indonesia. Tapi kalau hidup menjadi bangsa munafik? Bangsa yang enggak punya malu untuk berbuat dosa? Rasanya... yah, apa boleh buat! Aku enggak bisa milih dilahirkan jadi bangsa apa. Jalan satu2nya ya tetap jadi bangsa Indonesia, tapi yang enggak munafik. Bisa enggak ya? Susah juga sih menjaga diri biar enggak muna. Tapi belajar enggak muna musti kudu kan?

Sunday, July 10, 2005

CINTA, DARA, DAN ANJING

Aku tidak ingat lagi berapa kali cinta memanggilku. (Habis susah ngitungnya... bendanya aja kaya apa, aku belum pernah lihat. Bisanya cuma dirasakan). Setiap kali cinta menyapa - tak peduli dari siapa - rasanya... campur-campur. Bahagia tapi sedih juga. Bahagianya, sapaan cinta itu hangat dan menghidupkan, membangkitkan gairah hidup. Sedihnya, jika dia berlalu... rasanya sepi, dingin, laksana memandang burung gagak yang bertengger di ranting kering di tengah padang salju.

Pernah sekali waktu aku suka pada seorang gadis teman sekolah. Inisialnya VTW - sering dipelesetin jadi VUTW, varietas unggul tahan wereng! Cuma aku tidak tahu apakah dia menaruh perasaan padaku. Yang jelas dia sangat baik padaku dan membuat segala2nya terasa hidup. Terlebih ketika dia bermaksud datang ke rumah. DUER! Tau enggak... waktu itu aku jadi kelabakan sendiri. Soalnya dia itu cewek yg jadi inceran banyak cowok. Dia bilang, sore akan datang. Makanya pulang sekolah aku buru2 ke swalayan mencari minuman dan kue2. Sorenya dia betul datang. Tapi tidak sendiri. Dia bersama teman, sama2 cewek juga sih! Si Maming. Sesudah lulus, kami terpisah. Aku melanjutkan kuliah di Yogya, sementara dia kuliah di Salatiga. (Hehehe... kalau inget kekonyolan itu jadi geli sendiri). Terakhir kali aku bertemu Maming, dia sudah menikah dan punya anak. Begitu juga dengan VTW (Hahaha! Hiks...).


Panggilan cinta ternyata tak hanya dari manusia. Hewan juga bisa (Ah, masak?).
Aku tuh paling suka piara anjing. (Guk! Guk!) Aku suka hampir semua jenis anjing (kecuali yang rabies dong!). Kalau melihat ke dalam bola mata mereka, rasanya gimanaaa gitu! Polos, tidak berpura2. Anjing tidak biasa berpura2 (Apalagi kalau dia pas ngegigit orang!).
Eh, bicara soal gigit-menggigit, aku pernah digigit anjing. Waktu itu aku masih kelas 2 SD (hehehe... masih hijau). Keluargaku tinggal di perumnas yang sederhana. Ada dua kompleks perumnas, namanya Ottawa dan Makmur.


Nah, sekali waktu aku main2 ke Makmur. Pas di ujung gang yang dekat taman kanak2, tiba2 muncul 2 ekor anjing. Nyelonong gitu aja tanpa ijin! Mending kalau mereka terus berlalu. Ini enggak... entah kenapa mereka kompak banget berbalik dan mengejar aku. Mentang2 gigi mereka putih, lebih putih dari gigi... tetanggaku, mereka pamer gigi dengan bangga. Kalau saja yang pamer gigi itu Tamara Bleszynski (bener enggak nih tulisannya?), aku juga bakal lari... mendekat. Lha ini... anjing! Maka kukeluarkan jurus andalan: langkah 1000. Celakanya anjing2 itu punya jurus lebih hebat: langkah 1001. Akibatnya...

GYUUUT!

Gigi anjing yang putih itu menyergap bagian rawan. Selangkanganku kena! Coba saja mereka menggeser 5 cm lebih ke dalam... nggak taulah aku! Mungkin akan muncul berita anjing mengebiri orang! Pinter milih sasaran tuh anjing sialan!
Guna menyelamatkan aset berharga, aku terpaksa memanjat pohon. Jadi monyet sebentar nggak apa... daripada kehilangan keperjakaan oleh anjing. Nggak sempat kutengok apakah mereka anjing jantan atau betina. Pokoknya ngabuuur! Dalam hati aku mengumpat, "ANJING!"

Syukurlah pemilik anjing segera keluar dan memanggil piaraan mereka. Yaaa... karena itu turunlah aku! Pulang. Nggak sempat terpikir buat nuntut ganti rugi. Jaman gitu belum musim orang nuntut ganti rugi kayak sekarang. Perkara sepele aja ganti ruginya berjut2. Apalagi aku masih anak SD yang belum terprovokasi oleh... provokator tentunya.

Meski aku digigit anjing, kecintaanku pada Canis familiaris itu enggak luntur. Kalau aku kena gigit, ya itu pas sial aja... atau anjing itu lagi beranak... atau dia lagi mengasah gigi... atau dia lagi frustrasi karena cintanya ditolak (hehehe...). Kalau kalian enggak mau digigit anjing, resepnya gampang: jangan dekat2 anjing.


Aku pernah punya anjing yang pinter, namanya Dicky (maaf buat yang punya nama sama... cuma kebetulan). Dia tau aba2 yang kuberikan. Sebenarnya sih... anjing itu dulunya punya teman. Tapi karena aku punya andil membesarkannya, maka anjing itu jadi punyaku juga. Hanya beberapa orang yang bisa memerintah anjing itu. Soalnya aba2 yang kami berikan dalam bahasa Tiociu. Jadi orang yang nyuruh anjing itu dengan bahasa Inggris paling mahir pun nggak bakalan digape. Ampe jontor mulut, ya nggak ngaruh...

Pas Dicky mati, aku nangis bombay semalam2an. Aku merasa kehilangan sahabat dekat. (Benar juga kata orang, bahwa anjing adalah sahabat terbaik manusia). Anjing itu setia banget. Kalau dia kumarahin, enggak bales marah apalagi ngegigit. Kala aku sedih sendiri, dia datang menemani. Kala aku jalan2 pagi, dia ikut (Biasanya kalau dia lihat aku sudah menyiapkan rantai, langsung melompat2 senang. Dia tahu, aku bakal mengajaknya jalan dan lari pagi). Ada rasa bangga juga berlari dengannya, soalnya ukuran tubuhnya termasuk besar. Kalau aku pergi kuliah, dia setia menunggu di rumah. Dia enggak banyak kasih nasihat ke aku, tapi begitu aku memandang wajahnya... aku langsung tau jalan keluar atas problem yang kuhadapi (tuh... jangan sepele'in anjing ya! Jangan cuma bisa bikin erwe!).

Dicky kukuburkan di depan rumah. Kugali sendiri liangnya dengan susah payah. Habis tanahnya liat! Apalagi ukuran tubuh anjingnya besar... Mesti gali tanah lebih dalam dan lebih lebar kan?

Total dari aku kecil sampai sekarang, ada 14 ekor anjing yang pernah kupiara (belum begitu banyak...). Sekarang tak seekorpun. Mereka ada yang mati karena tua, tapi ada juga yang mati karena sakit (hiks... sedihnya...). Sebenarnya aku masih pengen piara anjing lagi. Tapi ibuku enggak mau. Dia nggak ingin merasakan rasa kehilangan lagi. Yah, terpaksalah aku memendam keinginan itu. Tapi suatu hari nanti aku pasti akan piara anjing lagi. Tunggu saja!

Tuesday, July 05, 2005

AKU DILAHIRKAN OLEH CINTA

Ceprot!
Kata orang begitu caranya membunyikan sesuatu yang keluar dari tempat sempit ke tempat yang lebih luas. Misalnya bunyi es cendol yang diplastikin, lalu jatuh ke lantai... Ceprot!
Cendol2 yang semula berenang2 ria itu berhamburan dari plastik yang sempit ke lantai. Begitulah... sebentar saja semut2 nakal ngerubutin cendol2 manis. Aku dilahirkan manis, lebih manis dari es cendol!

Ceprot!
Begitulah kira2 ketika aku lolos melewati saluran sempit, dari rahim bunda tercinta ke alam luas yang liar dan ganas. Mamma mia! Sungguh... kalau bisa memutar time and mass kembali ke masa lalu, aku pengin tetep di dalam rahim. Tapi berhubung belum diciptakan mesin quantum leap, apa boleh buat... kujalani saja hidup ini. Susah-senang, tangis-tawa, kecewa-bahagia... itu semua warna hidup yang mesti kulalui. (Kalian pasti juga dong!). Makanya alam-liar-ganas mau tidak mau mesti kuhadapi. Bahkan bila perlu aku belajar dari mereka. Kata orang Minang: alam takambang menjadi guru... Iya kan?

Ceprot!
Syukurlah aku dilahirkan dalam nama cinta. Jadi patutlah aku bersyukur karena aku merupakan wujud penyatuan dua cinta anak manusia. Ayah-bunda. Aku tidak tahu bagaimana rasanya anak2 yang dilahirkan bukan karena cinta, melainkan karena perkosaan dan paksaan. Pasti sangat menderita batin mereka. Sudah "proses" kejadiannya dipaksa, "proses" keluarnya terpaksa, dan belum tentu jadi anak yang dikehendaki setelah lahir (malah untuk menghilangkan aib ada yang penginnya diaborsi saja). Trauma berganda! Kasihan bangeeet...
Terus gimana juga perasaan teman2ku yang terpaksa dilahirkan karena buah "kecelakaan" ya?
Eh, jangan dikira yang bisa "kecelakaan" cuma pelajar en mahasiswa loh... Para bapak-ibu yang budiman pun bisa "kecelakaan" jika alat kontrasepsinya menyatakan diri: mission failed!

Ceprot!
Karena aku lahir atas penyatuan cintakasih, maka sudah sepantasnya aku juga memiliki cintakasih (Haaa' cuuuh...!)
Btw tentang cinta, terus terang... sebenarnya aku blank (Bo'ong banget yah?)
Kenapa sih ya harus ada cinta? Padahal kan sudah jelas, cinta itu selain bisa membahagiakan, juga bisa melukai sangat dalam. Tapi aneh bin ajaibnya, cinta juga yang bisa menyembuhkan luka karena cinta! (Masa sech?) Kalau gak percaya ya wuuudah...
Aku pernah membayangkan seandainya cinta diambil dari dunia oleh pemiliknya. Pasti tidak ada lagi yang akan terluka karena cinta. Tapi pasti juga dunia menjadi tidak terasa menyenangkan lagi ya? Orang2 pada bikin keturunan ga lewat perkawinan lagi, tapi mungkin bakalan lewat kloning semua. Nggak asyik banget deh pokoknya! Nggak ada lagi bunyi: Ceprot!


Kalau cinta diambil dari dunia oleh pemiliknya, ga ada lagi para pencipta lagu2 bernafas cinta. Nggak ada lagi penyair2 cinta nan agung dan penyair2 cinta yang ngegombal. Nggak ada lagi para blogger yang mencurahkan isi hatinya (Wuuuiiih!).
Benar juga kata orang, langkah pertama adalah yang paling sulit. Begitupun aku. Ini adalah tulisanku yang pertama di blog. Sulit (nggak pakai pitik). Tapi aku beranikan diri juga membuatnya. Pertama karena cinta memanggilku. Makanya bila cinta, harus bilang apa? Jawab saja! Kedua karena aku mendapat rantangan eh tantangan dari tulisan di surat kabar nasional dan menjawan tantangan: go blog-er! Goblog enggak sih aku? Ketiga karena aku ingin melahirkan kisah2ku... (hehehe... memangnya yg bisa ngelahirin cuman perempuan?). Kelima - loh, keempatnya mana? (suka2 gua dong! Yang nulis kan gua!) karena memang aku cinta dunia tulis-menulis.


Tapi menjawab tantangan cinta pastilah tidak mudah. Kata orang, perlu pengorbanan. Kata Pat Kay, siluman babi di Sun Go Kong itu loh, "Begitulah cinta, deritanya tiada akhir." (Bener enggak, sih?). Mungkin bener juga... pastilah sakit rasanya ketika bundaku bergelut dengan maut hanya untuk memindahkan aku dari dalam rahimnya ke dunia liar. Jangan2 akupun mesti menderita karena kecintaanku pada dunia tulis-menulis ini. Aku mesti melahirkan ide2 yang terbenam di kedalaman batin ke dalam deretan 26 alfabet yang mesti kuatur sedemikian rupa sehingga bermakna (Uuuh... cinta...).