Khazanah Kata

Usaha menyusun 26 aksara menjadi kalimat bermakna, usaha membunuh kehampaan, atau justru berkarib intim dengan kehampaan itu sendiri...

My Photo
Name:
Location: Semarang, Central Java, Indonesia

Simple, down to earth(?), easy going person

Sunday, August 28, 2005

KERJA

Kerja. Entah bagaimana kalian memandangnya. Tetapi kerja itulah yang membedakan manusia dari binatang. Binatang bisa mencukupi keperluan hidupnya karena alam menyediakannya. Secara naluri mereka "belajar" untuk mendapatkan makanan. Fisik mereka ditempa untuk mendapatkan mangsa. Sementara manusia, mesti menempuh jenjang pendidikan untuk bisa bekerja, yang akhirnya untuk memenuhi keperluan jasmaninya.
Kerja. Adalah amanat Ilahi yang diberi sesudah amanat: bertambah banyaklah dan kuasailah bumi. Manusia berpeluh-keringat untuk bisa bekerja.
Kerja zaman ini jauh berbeda dengan kerja zaman yang telah lampau. Zaman berburu dan meramu sudah lewat. Zaman bercocok tanam yang ada sekarang pun jauh berbeda dengan dulu. Bertani zaman sekarang banyak melibatkan teknologi madya dan maju.
Zaman ini pekerjaan yang paling banyak dicari orang adalah kerja kantoran. Tak mungkin disangkal! Jika orang ditawari: kerja kasar atau kerja kantoran, pastilah lebih banyak yang memilih kerja kantoran.
Aku pernah mengalami keduanya. Ada pahit-manis tersendiri.
Entah mengapa aku tidak tertarik kerja kantoran - kalau itu boleh dibilang kantor. Suasana di kantor senyaman apapun tidak membuatku betah bekerja. Aku pernah menjadi atasan, katakan saja begitu, juga pernah menjadi bawahan. Status itulah yang tidak kusukai. Atasan-bawahan. Aku tidak suka menjadi atasan, tidak juga suka menjadi bawahan. Maka aku memutuskan kerja di luar kantor. Tanpa status atasan-bawahan. Juga tidak punya atasan maupun bawahan. Aku bekerja dari rumah.
Cara kerjaku ini rupanya tidak disukai oleh bapakku. Bagi dia, kerja di rumah sama saja dengan pengangguran. Aku tidak terlalu menanggapinya. Ini hanyalah perbedaan sudut pandang tentang apa itu kerja. Bagi bapakku, yang pensiunan PNS, kerja adalah di kantor. Entah itu instansi pemerintah atau swasta. Tak bisa di tawar. Kerja di luar itu (rumah, LSM) baginya bukan kerja. Aku tidak menyalahkan cara pandangnya karena bapak dibesarkan dalam dunia itu. Zaman bapak beda dengan zamanku. Tapi apa boleh buat? Aku tidak bisa menyenangkan setiap orang, sekalipun itu bapakku sendiri. Haruskah aku mengorbankan kebahagiaan kerjaku demi memenuhi keinginan bapakku? Sesuatu yang sama sekali tidak akan kulakukan! Bukannya aku mau jadi anak durhaka yang melawan keinginan orang tua. Tetapi zaman sudah berubah!

Saturday, August 13, 2005

JIKA ADA BINTANG JATUH

Jika ada bintang jatuh, apa hendak kau katakan?
Harapan2mu-kah?
Kecemasan2mu-kah?
Luka2 batinmu-kah?
Jika ada bintang jatuh, apa hendak kau katakan?
Sukacitamu-kah?
Tangis dukamu-kah?
Jika ada bintang jatuh, apa hendak KU katakan?
Tak satupun.
Biarlah kunikmati saja keindahannya.
Karena aku tak mampu bicara apa.

Tuesday, August 09, 2005

IN MEMORIAM LORENZO SCAGLIA


Semalam saudaraku semasa di novisiat, Yitro menghubungiku via sms. Saat ini dia kuliah di Perbanas. Dia menyatakan kerinduannya akan masa2 di novisiat. Katanya, masa2 itu sangat indah dan penuh rasa kekeluargaan. Sekarang ini dia merasa kesulitan karena tidak ada teman kuliahnya yang bisa dia percayai penuh. Memang sih waktu di novisiat dulu ada saudara2 sekomunitas yang bisa dijadikan tempat curhat.
Kalau saudaraku itu merindukan keakraban seperti di novisiat, aku bisa maklum. Sejak sekolah menengah dia sudah terbiasa hidup dalam komunitas besar di sebuah seminari. Di novisiat meskipun tidak besar komunitasnya, tetap saja namanya komunitas. Nah, sekarang dia mesti hidup di luar komunitas alias mandiri. Di kota besar macam Jakarta pula! Kalau ada semacam gegar-budaya yang dia alami, ya wajar.
Memang sih hidup di dalam komunitas di Casa Xaveriana itu segala2nya terjamin. Makan, minum, istirahat, belajar, bermain... semua terjamin. Tidak perlu susah payah mengusahakannya sendiri. Sekarang... di luar, segala2nya mesti diurus sendiri.
Wheeew... ngomong2 soal komunitas di Casa Xaveriana, aku jadi ingat dengan almarhum Pastor Scaglia. Lengkapnya Lorenzo Scaglia. Tepat bulan ini, setahun yang lalu P. Scaglia dipanggil pulang ke rumah Bapa di surga.
P. Scaglia orangnya unik, lucu, dan selalu tampil riang. Saat marah pun kelucuannya tidak berkurang. Oh ya, sebagai informasi, P. Scaglia itu kelahiran Brescia, Italia. Brescia adalah kota penghasil senjata api terkenal: Beretta. Tahu enggak kalian di mana letak Brescia? Oke kuterangin dikit deh!

Brescia itu terletak di Italia Utara, antara kota Milano (Milan) dan Verona. Lebih tepatnya sih antara Bergamo dan Verona, cuman karena Bergamo kota kecil dan letaknya sedikit ke utara... ya "dilewati" aja! Urut2an dari barat ke timur tuh begini: Torino (Turin) - Milano - Bergamo - Brescia - Verona - Padova (Padua) - dan paling timur adalah Venezia. Di antara Verona dan Padova ada danau cukup besar dan indah, namanya Lago di Garda atau Danau Garda. Nah, begitu kira2 urutannya. Lain kali kalau ke Italia Utara, jangan lupa ajak aku ya! Jadi guide tanpa bayaran pun mau... huehehehe...
Meskipun kelahiran Brescia, tapi P. Scaglia itu fanatik dengan klub sepak bola AC Milan. Kami yang pernah dibimbingnya pun mesti ikut jadi pendukung AC Milan. Nih, fotonya ketika kami kompak pakai seragam rossoneri ala AC Milan di Casa Xaveriana! Rosso itu merah, neri itu hitam.


Berbeda dengan para pastor lainnya yang selalu serius dalam mengajar, bahkan pakai metode psikologi segala, P. Scaglia tidak. Dia punya gaya mengajar tersendiri. Kocak abis! Sepanjang jam pelajaran dia mampu mengocok perut kami sampai keras. Dia juga mengajari kami lagu2 Italia. Di antaranya adalah "O, Bella Ciao" dan "La Rivista del Corredo (E Le Stellette)".
Oke deh... untuk mengenang P. Scaglia, aku ingin mengutip kata2 almarhum Bapa Suci Johanes Paulus II ketika hadir dalam World Youth Day di Denver, USA. Begini kata Bapa Suci:
"La vita dice sempre la parola più piena, dice tutto. Vi auguro di riflettere su questa parola, su questa realtà della vita, così diversificata nella creazione, anche in noi così diversificata." terjemahannya:
"Life speaks always with the fullest meaning, it says everything. I hope you will reflect about what it says, about this reality of life, or diversified in creation, also in ourselves."
Hidup P. Scaglia telah mencerminkan kata2 Bapa Suci, kurasa. Dan kini dia telah memiliki kepenuhan hidup, lebih daripada ketika bersama2 dengan kami, oleh karena dia telah berjumpa dengan Bapanya di surga. Semboyan hidupnya: Amor Vincit Omnia atau Love Conquer All tetap kukenang. Pastor Scaglia... bella ciao!

Saturday, August 06, 2005

TOPENG

Topeng. Siapa tidak kenal dengan benda ini? Kukira kalian semua mengenalnya, bahkan mungkin juga memakainya untuk mengadakan pertunjukan. Kalau tidak salah ingat, topeng dalam bahasa Yunani adalah PERSONA. Dalam pertunjukan drama Yunani zaman dulu, para pemainnya menggunakan topeng untuk memerankan satu tokoh. Mereka menyembunyikan wajah sesungguhnya.
Di negeri ini pun kesenian topeng terdapat hampir di semua daerah. Eh, percaya atau enggak, berdasarkan pengamatanku, daerah yang keseniannya berkembang sangat maju... selalu ada tari topeng. Di Jawa dan Bali ada tari topeng, bahkan jauh sejak abad ke-10. Tapi di Papua sana... kok aku belum pernah dengar ada tari topeng. Memang sih kadang2 mereka mewarnai mukanya dengan lumpur dan oker. Tapi kurasa fungsinya bukan untuk menyembunyikan wajah mereka, melainkan sebagai tuntutan untuk upacara ritual. Mereka menganggap oret2an lumpur itu sebagai "baju" mereka. Tetapi topeng atau persona jelas beda. Topeng tak hanya hadir dalam sendratari, tapi bisa juga dipakai main2. Memang sih ada juga topeng yang dianggap keramat. Topeng2 Bali yang punya taksu, misalnya. Enggak semua orang bisa memakai. Harus punya jiwa dan roh yang bersih.
Eh, kenapa sih aku nulis tentang topeng?

Ya... sekalipun orang sekarang ini jarang memakai topeng untuk menari, sesungguhnya masih juga mengenakan topeng. Bahkan topeng yang paling susah dilihat karena sudah begitu menyatu dengan kehidupannya. Topeng itu adalah kepura2an, hipokrisi. Berhadapan dengan orang lain, biasanya manusia cenderung tidak menjadi dirinya sendiri. Yang biasanya pendendam, tampil dengan wajah bersahabat. Bisa juga sebaliknya, yang orangnya baik hati, menampilkan dengan wajah yang tidak sedap dipandang. Agar dianggap punya harga diri tinggi, maka kita menjaga penampilan dengan sangat hati2. Topeng itu hanya akan "dilepas" jika dia tengah sendirian, tanpa kehadiran orang lain. Benarlah kata orang bijak: Dalam kesendirian, itulah sejatinya dirimu.
Kita mungkin enggan melepas topeng yang kita kenakan karena sudah merasa nyaman mengenakannya. Kita takut jika topeng dilepas, segala cacat-cela yang kita miliki menjadi nampak. Padahal tidak ada kebahagiaan sejati tanpa menjadi diri sendiri. Topeng hanya mendatangkan kebahagiaan semu.
Ups... aku jadi takut sendiri menulis ini karena aku tidak yakin apakah aku sudah melepaskan topeng yang kukenakan.

BUON GIORNO!

Incominciamo questo giorno con:
allegria,
ottimismo,

ed entusiasmo.

Non lasciamo che
lo scoraggiamento,

la pigrizia,
e l'impazienza

si approprino il meglio della nostra giornata.
Possiamo ben essere
felici,
comprensivi
e condividere
con gli altri.
É una nostra possibilità.
Anche se avessi
problemi,

stanchezze

e soffrenza...
c'é sempre qualcosa di superiore che spinge a vivere e a servire
per dare FELICITA!

Thursday, August 04, 2005

MALAM PRESENTASI YAMASHITA

Empat Agustus dua ribu lima, malam hari. Graha Santika Hotel, Semarang.

Sejak sore aku sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti acara yang digelar oleh National Geographic Indonesia: Presentasi Foto dan Kisah Perjalanan Michael Yamashita. Sebagai member dari National Geographic Society, aku nggak boleh melewatkan kejadian ini.
Pukul 18.00 aku berangkat dari rumah. Masuk kawasan hotel kira2 pukul 18.30-an. Masih ada waktu 1/2 jam kupikir. Setelah melalui pemeriksaan petugas (kali aja aku bawa TNT), aku parkir kendaraan. Kemudian aku menapaki anak tangga menuju ballroom.


Ups... rupanya ballroom masih digunakan untuk seminar. Banyak mahasiswa Undip yang di depan pintu ballroom. Aku taunya ya dari jas almamater mereka. (Hehehe... pake jas almamater, jadi inget waktu kuliah dulu nih...). Di samping para mahasiswa itu ada juga orang2 dari NG sedang ngatur meja, lembar panel, dan buku2 National Geographic.
Sampai pukul 19.00 acara di ballroom belum kelar. Wheeew... udah tradisi... molor!! Kulihat Yamashita-san beberapa kali lewat di muka ballroom. Kemudian lenyap. Kali aja dia balik ke kamarnya.
Acara baru mulai pukul 19.40. Kenapa enggak sekalian pukul 20.00 aja ya? Biar yang nunggu pada gondok. Ya nggak? Pembukaannya dilakukan oleh Jero Wacik (wacik ketan, wacik bandung, wacik Ny. Week, wacik apa terserah deh), Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Dia ngomong banyak tentang RRC dan sedikit India. Katanya 20% dari jumlah penduduk kedua negara adalah golongan menengah ke atas. Dua puluh persen itu kira2 equal dengan jumlah total penduduk Indonesia sekarang.


Aku dapet tempat duduk yang lumayan strategis. Bisa langsung menatap ke layar proyektor ukuran besar. Lagi enak2nya menikmati ruangan, datanglah dua orang muda-mudi. Mereka mengambil tempat duduk tidak jauh dariku. Kalau saja aku tidak bertanya, aku akan mengira mereka dari kalangan press. Tapi karena keisenganku, jadi tahulah aku kalau mereka adalah chirigaku-sei, mahasiswa geografi UGM.
Cewek yang duduk di sebelahku mengenakan busana muslim-modern. Dia memperkenalkan namanya: Netty, gitu. Apa nama panjangnya, aku enggak nanya. Yang pasti bukan: Neeeeettyyyyyyy. Aku enggak nanya siapa nama teman cowoknya. Habis duduk dia jauhan sih. Mereka berangkat dari Yogya pukul 13.00, menurut pengakuan Netty. Nih pic dia... centil enggak sih? Huehuehuehehe...



Omong punya omong akhirnya aku nanya, "Punya alamat e-mail?"
"Ya, punya," jawabnya.
"Boleh saya minta alamatnya?" Aku mengulurkan kertas dan pensil.
"Boleh."
Jadilah kami bertukar alamat e-mail dan friendster.
Balik ke acara presentasi deh...
Hasil jepretan Michael Yamashita benar2 memikat mata. Lighting dan angle yang dipilih begitu bagus. Pastilah karena pengalaman yang bertahun2. Enggak mungkin kan jadi fotografer profesional (di National Geographic pula) hanya dengan belajar semalam. Selain itu foto2 yang dipresentasikan pastilah hanya sepersekian dari puluhan ribu frame klise film. Pasti enggak kehitung lagi berapa rol dia habiskan.
Foto2nya dapat bercerita meski tanpa narasi. Dengan foto2 itu kami mendapat gambaran bagaimana dulu Cheng Ho melakukan ekspedisinya hingga tujuh kali. Dahsyat man!
Di akhir acara... itulah tidak sopannya aku. Begitu saja meninggalkan Netty tanpa pamit. Padahal kami sudah ngobrol cukup banyak tentang foto2 Yamashita-sensei. Aduuuuh... maafkan daku, Netty-san! Aku bukan sengaja melakukannya. Syaraf tak sadarku rupanya bekerja lebih baik dibanding syaraf sadarku saat itu... hehehe...
Aku segera memburu Yamashita-san. Dia sibuk melayani permintaan tanda tangan dari sekian banyak orang. Nyesel aku enggak bawa majalah National Geographic edisi Cheng Ho Juli lalu. Kalau aku bawa, kan bisa ikut minta tanda tangan.
Setelah kerumunan agak berkurang, aku dekati dia dan berkata, "Yamashita-san, anata no shashin o totte mo ii desu ka?"
Dia memandangku sejenak. Lalu dia mengangguk. Jadilah kami berfoto bersama dengan juru kamera si Tantyo Bangun, yang jadi boss-nya National Geographic Indonesia. Hehehe... lumayaaaaan... Nih hasil jepretannya:
Kapan lagi ada acara seperti ini bakal digelar oleh Majalah NG ya? Di Semarang atau di Yogya gitu, biar mudah kujangkau. Siapa tahu bakal ketemu dengan Netty lagi huehuehuehehe...

Tuesday, August 02, 2005

ULANG TAHUN... NGAPAIN YA?


Tanti auguri a te... Tanti auguri a te... Tanti auguri a Pippo... Tanti auguri a te!
Itu tuh lagu ulang taun bahasa Italia. Kalian bisa nyanyi juga kok. Iramanya sama persis dengan versi Inggrisnya: happy birthday to you... happy birthday to you... etc. Nama Pippo/Filipo (namaku) bisa kalian ganti dengan nama kalian sendiri.
Memang bulan ini aku ulang taun. Ucapan ulang taun pertama datang dari De Sekar. Dia tuh temen ketemu di friendster. Asyik banget orangnya... semua pic-nya ceria gak ada matinya! Lihat aja pic dia... Kayaknya dia orangnya easy going gitu. Biasanya sih orang gitu awet muda... huehuehehehe

Btw tentang ulang taun... macam2 perasaan campur aduk. Nggak terasa umurku setahun bertambah. Padahal kalau bisa, aku sih pengen tetep jadi remaja 17 atau 18 tahun (Yeeee... maunya!). Rasanya memang benar, tetap muda itu dambaan semua orang. Buktinya banyak juga tuh bapak2 atau ibu2 yang menyemir rambutnya biar tetep item. Atau ada juga yang operasi plastik biar kulitnya tetep kenceng. Kalau aku sih ogah operasi2 gitu. Salah2 malah bisa ancur kulitku yang sudah bagus ini (wiii haaa...). Mending biar kulit asli aja, gak usah operasi2an. Aku gak mau jadi Michael Jackson kedua, selain itu... gak ada doku buat operasi2an (ini sih alasan paling masuk akal buat fakir miskin kayak aku... gyahahaha...)

Umur boleh bertambah, tapi jiwa tetep muda... boleh enggak sih? Boleh kali ya? Asal kemudaan jiwa itu dipakai untuk hal2 yang bener. Kan jelek abis kalau ada orang udah tua tapi masih juga berburu daun muda karena alasannya jiwa muda. Itu mah bukan jiwa muda, tapi maruk! Enggak ingat akhirat. Enggak punya malu ama cucu!

Kemudaan memang dambaan. Makanya ada percakapan antara Faust dan Mephistopheles yang bunyinya gini (maaf ya... enggak diterjemahin, biar keindahan irama puisinya enggak hilang) :
A moi les plaisirs
Les jeunes maîtresses!
A moi leurs caresses
A moi leurs désirs!

A moi l'énergie
des instincts puissants
et la folle orgie
du coeur et des sens!

Ardente jeunesse
A moi tes désirs
A moi ton ivresse
A moi tes plaisirs!
Dalam pertambahan usiaku ini, mau tak mau aku harus merefleksikan perjalanan hidupku (ceileee! Sok filsafat ye!?). Sesungguhnya sepanjang hidup ini aku punya teman dan musuh yang sama. Teman dan musuh itu adalah: waktu. Dia akan menjadi teman yang sangat baik sepanjang aku bisa memanfaatkan waktu untuk hal2 yang berguna. Tetapi waktu dapat juga menjadi musuh yang tak kenal ampun. Sangat bengis! Dia tidak pernah berputar kembali. Apa yang sudah lewat, tetap lewat. Sekali kesempatan lepas, lepaslah sudah. Tak mungkin diulang kembali (kecuali jika memang ada yang namanya dunia paralel). Yang datang belakangan adalah penyesalan. Kenapa aku enggak begini-begitu-begiti-beginu... Andai aku begini-begitu-begiti-beginu pasti enggak begini-begitu-begiti-beginu. Ya kan? Nyesel pasti!
Tapi aku juga belajar, bahwa apa yang sudah lewat tak mesti harus disesali terus-menerus. Mesti ada kemauan untuk bangkit dengan semangat baru. Positive thinking aja, biar tetep awet muda. Ya nggak? Soalnya menyesal mulu hanya akan menghabiskan energi dan pikiran. Boros dan percuma!

Dalam usiaku yang sekarang, ada yang datang dan pergi dalam hidupku. Orang2 yang pernah singgah di dalam kamar hati, orang2 yang pergi untuk kembali, dan orang2 yang pergi tak pernah kembali. Mereka semua mewarnai hidupku, membantu membentuk diriku seperti sekarang aku ada. Apapun, siapapun, bagaimanapun mereka... mereka berjasa bagiku.
Memang ada saat2 di mana kesedihan seakan tanpa ujung datang membayang. Kesedihan manakala kehilangan seorang sahabat atau suatu benda yang berarti dalam hidup. Akan tetapi syukurlah cepat datang penghiburan: "Bahwa jika Tuhan mengambil apapun/siapapun yang kita sayangi dari kita, Dia akan memberikan gantinya yang lebih baik." Deo gratias!
Sekarang... ulang taun mau ngapain ya? Mau rame2 udah pasti kalah rame ama festival untuk memperingati 600 tahun Pelayaran Cheng Ho. Pas hari ulang taunku, pas pula puncak perayaannya di Gedong Batu Semarang. Tempatnya enggak jauh dari rumahku. Cuma sepuluh menit naik sepeda motor. Ya wudah... kalian2 aja yang ke rumahku, bawa kue dan kado yang banyak yah! Awas kalau lupa! Gyahahahaha... (maksa!). Kalau ga bawa kado... Gua doain kalian... selamet!

Harapanku... I hope I get wiser... Lord help your son